𝐀𝐧𝐚𝐤 𝐁𝐚𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐁𝐚𝐠.𝟑𝟓 [ 𝐓𝐀𝐌𝐀𝐓]

 

NARASI ISKHA
Aku hari ini ada konser di Srikandi Hall. Bukan aku saja sih yang mengisi. Banyak. Dan semuanya artis-artis papan atas. Kalau dulu aku yang menyanyi menjadi pembuka panggung, sekarang aku jadi main character. Panggung sudah ditata sedemikian rupa. Bentunya seperti tanda X. Aku ada di tengah dan bisa berjalan ke sana kemari. Pagi harinya ada gladi resik. Event organizernya cukup keren mengarahkan. Aku suka sekali.

Ini termasuk rangkaian terakhir dari turku selama ini. Tawaranku manggung dan mengisi acara di stasiun tv bejibun. Sampai-sampai aku kewalahan. Aku pun terpaksa mencari manajer. Manajerku ini adalah teman sekelasku dulu. Siapa lagi kalau bukan Nailul. Hihihi. Kami emang kompak. Dia juga telaten mengurus semua jadwalku, sehingga tak berantakan. Kontrak demi kontrak selesaikan. Capek rasanya emang. Sehari aku bisa ngisi di tiga stasiun tv berbeda. Kadang juga jadi bintang tamu di acara komedi. 

Mulai dari iklan kosmetik, sabun, minuman semua sekarang ngantri. Walaupun sekarang kehidupanku berubah, tapi aku selalu ada yang kurang. Yaitu Mas Faiz. Karena terlalu sibuk, aku sekarang jarang kontak dia lagi. Sudah setahun lamanya semenjak acara Bukan Empat Mata itu. Aku tak pernah kontak dia lagi. Aku pun tak ingat kapan ia akan pulang. Apakah dia sudah selesai kuliah atu belum? 

Hari ini sebelum konser dimulai aku mencoba mengontak dia. Tapi tak aktif. BBM juga nggak dibales. Aneh. Aku pun mulai khawatir, jangan-jangan dia kenapa-napa lagi? Di ruang rias pun aku sempat bengong. 

Nailul pun menyeletuk, "Kamu kenapa sih, bengong melulu? Nggak biasanya deh."

Lamunanku pun buyar, "Ah, nggak apa-apa koq. Cuma keingat ama Mas Faiz aja."

"Cieeeh...yang ditinggal jauh. Gimana kabarnya sekarang?"

"Entahlah. Udah lama nggak kabar-kabar. Aku sibuk, jadi jarang banget menghubungi," jelasku.

"Yah, nggak bisa gitu dong. Coba say HI gitu!"

"Udah, tapi nggak dibales. Aku mulai takut kenapa-napa ama dia."

"Sudah berpikir positif saja. Mungkin ponselnya hilang atau mungkin dia sedang ada di tempat yang tak bisa dihubungi. Apalagi di Amrik non, udah deh!" 

"Hmm...yah, positif thinking."

"Ya udah, sana. Siap-siap! Habis artis-artis itu ngisi giliranmu lho," kata Nailul.

"Iya, iya," aku pun bergegas menuju ke back stage. Hari ini aku memakai baju gaun putih panjang seperti putri raja. Rambutku kubiarkan panjang sampai sepinggang sekarang. Aku sudah mencoba untuk feminim. Meninggalkan baju-bajuku yang tomboy. Mulai belajar menata rambut, merawat diri. Intinya aku sadar kalau aku cantik. 

Setelah artis-artis itu selesai mengisi. Kini giliranku. Lampu pun dimatikan. Aku langsung masuk ke panggung. Skenarionya adalah ketika lampu nyala aku sudah di tengah panggung dengan piano. Aku masuk ke panggung dan penonton tak bisa melihatnya. Bagaimana aku bisa bejalan di dalam gelap? Sebenarnya di atas lantai panggung ada lampu-lampu yang menuntunku untuk menuju ke tengah panggung yang kalau dari atas berbentuk huruf X. 

Aku kemudian duduk di atas kursi yang disediakan di depan piano. Aku lalu memainkan piano itu. Seluruh penonton langsung bersorak. Karena tahu aku sudah ada di tengah panggung. Lampu sorot pun menyala dan langsung memperlihatkan aku sudah ada di tengah panggung dengan pianoku. Para penonton histeris. Ada yang bilang, "Iskhaaa I Love You!"

Aku pun menyanyikan laguku. Lagu pertama yang disukai oleh semua penggemarku. Lagu yang paling banyak ditonton oleh orang-orang di youtube. Judulnya Rindu.


Wahai Kasih, dengarkan diriku
Kutakkan mengulangi lagi
Wahai Kasih, peluklah aku
Karena ku takkan melepasmu lagi

Hati ini pun lelah tuk bersandar
Apa yang bisa aku lakukan
Kala jiwa ini membutuhkan kerinduan
Dari dirimu yang nun jauh di sana

[Reff:]
Wahai kasihku
Dengarkanlah kata rindu di hatiku
Kuingin kau rasakan rasa cintaku
Bahwa hati ini adalah untukmu....

Wahai kasih, maafkan aku
Yang tak bisa menahan rindu ini
Wahai kasih, ciumlah aku
Karena ciumanmu pelepas dahaga ini

Akankah aku bertemu lagi denganmu
Akankah aku mencintai dirimu lagi
Aku pun berjanji kau tak kan kulepas lagi
Hingga sampai akhir nanti

[back to reff 2x]

Setelah aku selesai memainkannya para penonton bersorak. Tapi tunggu dulu. Ada yang aneh. Skenarionya seharusnya lampu sorotnya mati. Tapi kenapa masih nyala? Dan tiba-tiba dari ujung panggung aku mendengar sesuatu. Sebuah piano yang dimainkan. Tunggu dulu. Lagu ini....aku ingat....ini....Cage Bird. Dan suara itu....Mas FAIZ! Lampu sorot pun menyorot di ujung panggung. Seorang laki-laki yang aku kenal sedang memainkan piano dan bernyanyi. Dia mas Faiz!

Takaku dono kurai tonde ittara 
Haruka tooku no kimi ga mienaku naru no?

Hitomi soraseba raku ni naru no kamo shirenai 
Demo itsumo dokoka de mitsumete itai

Wasureru koto nante deki wa shinai kara 
Nasu sube mo naku, sora wo miageteru dake. 
Maru de kago no naka no chiisana tori no you ni 
Mado wo sagashite atemo naku, samayotte iru.

Ima sugu ni aitai kimi ga suki dakara 
Kizutsuku koto ga kowakute nigetai kedo 
Mienai shigarami ni tsubasa torawaretemo 
Soredemo kimi wa kanashii hodo taisetsu na hito.

Aku terharu. Aku menitikkan air mata. Ini pasti ulah EO. Aku diberi kejutan seperti ini. Wajahku yang terharu terpampang close up di layar besar. Sang kameramen memanfaatkan momen ini. Para penonton bersorak ketika Mas Faiz selesai menyanyikan lagu itu. 

Mas Faiz mengambil mic. Kemudian ia berdiri. Berjalan dengan santai menuju ke arahku. Aku menutup mulut dan hidungku. Aku gembira, haru, semuanya jadi satu. 

"Iskha, bagaimana kabarmu?" tanyanya.

"Baik," jawabku.

"Aku mohon maaf memberikanmu kejutan ini. Aku paksa EO-nya agar aku bisa naik ke sini. Ini diluar skenario. Kuharap kau tak keberatan," katanya.

"Aku keberatan!" kataku dengan menampilkan mimik ngambek. Disusul tawa seluruh penonton. Gila apa? Aku malu sekali.

"Kamu tahu, ketika di Amerika aku pergi ke toko kaset dan kudapati fotomu di sana. Aku dengarkan lagumu dan aku kemudian menangkap semua pesan kerinduanmu. Dan karena itulah aku berusaha dengan keras untuk bisa lulus tepat waktu dan akhirnya aku pun lulus," kini Mas Faiz sudah mendekat kepadaku. Ia ada di hadapanku. Ia makin tampan saja. Ada jenggot tipis yang tumbuh di pipi dan dagunya, ohh...itu makin bikin dia tampan. 

"Kenapa kamu kembali?" tanyaku dengan nada ngambek.

"Karena aku harus kembali," katanya. "Di sini ada kehidupanku, di sini ada rumahku."

"Kamu jahat, kenapa lama sekali? Aku kangen kamu di sini," kataku.

Para penonton langsung menyorakiku. Tiba-tiba Mas Faiz berlutut di hadapanku. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jas hitamnya. Sebuah kotak merah kecil. Ia buka kotak itu. Tampaklah sebuah cincin dengan berlian yang berkilauan berbentuk hati. Seluruh penonton langsung gaduh. Terlebih kameramen menyorot kotak itu dan ekspresiku. Hei, ini nggak disiarkan live kan? Bisa malu aku.

"Aku penuhi janjiku. Aku melamarmu sekarang. Untuk menjadi bidadariku. Sekarang dan selamanya. Maukah kamu menikah denganku? Menjadi istriku dalam kehidupan susah dan senang. Menjadi ibu dari anak-anak kita nantinya?" tanya Mas Faiz dengan wajah mengiba. Oh Mas Faiz....romantis sekali ...sooo...sweeeetttt....

"Terima! terima! terima!" entah kenapa para penonton bisa sekompak ini. Ini sungguh cara melamar yang sangat tidak biasa. Di depan umum, saat pentas, dan dilihat oleh ribuan mata. Bahkan mungkin saja sekarang ini acaranya live.

Aku terharu sekali. Tolong siapapun pegangi aku. Aku ingin pingsan. Aku belum bisa menjawab. Aku ingin penonton tenang dulu. Jantungku berdebar-debar. Mas Faiz memberi aba-aba agar para penonton tenang. Akhirnya semuanya pun tenang. 

"Bagaimana?" tanyanya.

Aku mengangguk mantab. "Aku terima. Aku setuju. Jawabnya iya!"

Langsung para penonton gaduh semuanya. Aku jadi teringat pertandingan sepak bola ketika tim kesebelasan mereka baru saja menjebol gawang lawan. Seperti itulah suasananya sekarang. Aku bahagia sekali hari itu dilamar oleh Mas Faiz. Ia memilihku. Ia lebih memilihku. Terima kasih Mas Faiz. Pangeranku yang telah kembali.

NARASI VIRA

Aku melihat acara itu. Bagaimana Faiz melamar Iskha. Sakit rasanya. Aku pun menangis dan tak sanggup melihat acara itu. Seharusnya aku yang dilamar Faiz....seharusnya itu aku. Malam itu aku menangis, menangis sejadi-jadinya. Ternyata memang benar. Aku tak ditakdirkan bersama Faiz. Cintaku dengan Faiz cukup sampai di sini.

Selamat Iskha. Semoga kalian bahagia. Aku rela koq. Mas Faiz memang pantas dan cocok untukmu.

NARASI PUTRI

Aku baru saja menidurkan Faiz kecil di kamar. Ia capek sekali mungkin karena seharian main melulu dengan teman-temannya. Malam itu aku melihat acara tv. Aku melihat wanita yang dulu aku benci. Iskha. Aku sekarang jadi tidak bisa membencinya. Aku justru merasa sangat bersalah kepadanya. Dia sekarang sudah jadi artis terkenal. Sering muncul di tv. Gosipnya dengan Faiz pun berseliweran di berita gosip. Dan malam ini aku melihat sesuatu yang tidak biasa. 

Faiz ada di layar kaca, dia berlutut dan melamar Iskha di depan umum. Sungguh itu sesuatu yang sangat romantis. Mataku berkaca-kaca. Aku menangis. Aku melihat adikku yang aku cintai melamar Iskha. Hancur hatiku. Sakiiiitt sekali. Faiz, maafkan aku ya. Maafkan aku Iskha. Faiz, ini anakmu. Aku akan berjanji merawatnya untukmu. Faizku...Aku pun menangis dan tak sanggup melihat tv. Aku pun mematikannya. Akhirnya aku pun tidur sambil mendekap Faiz kecilku. Aku menciumi dia hingga aku pun ikut terlelap.

Malam Pertama

NARASI FAIZ
KEMBALINYA SANG PANGERAN, itulah judul headline surat kabar. Sehari setelah aku melamar Iskha di depan umum dan disiarkan secara live sebuah stasiun tv swasta itu, langsung media masa heboh. Aku dan Iskha dinobatkan sebagai pasangan selebritis yang paling romantis. Aku pun serius dengan lamaran itu. Nggak usah ditanya deh, ayahnya Iskha sangat setuju pasti. 

Setelah itu adalah minggu-minggu yang sibuk. Aku mencetak undangan, menyewa tempat untuk acara resepsi pernikahan, memilih baju pengantin, sewa catering dan lain-lain. Satu yang aku sukai dari Iskha adalah ia tak ingin muluk-muluk. Ia hanya ingin acaranya sederhana saja, nggak usah terlalu mewah. Dan ia lebih ingin mengundang orang-orang kecil. Biarkan mereka berbaur dngan para undangan lainnya, agar mereka tidak merasa kecil. Intinya ia ingin para tamu undangan itu orang-orangnya sejajar tak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah.

Tentunya ini konsep yang luar biasa. Undangan aku sebar ke beberapa panti asuhan. Dan juga para tetangga yang kurang mampu aku undang. Sedikit aku undang dari orang-orang kaya, terkecuali teman-teman sekolahku sewaktu SMA. Iskha sangat senang sekali. Ia bahkan menjadi seksi sibuk sekali. Sempat marah-marah juga ketika contoh undangannya salah. Aku pun menenangkannya.

"Udah dong, masa' salah dikit aja marah?" tanyaku.

"Gimana nggak marah coba Mas. ini udah ketiga kalinya lho," jawabnya.

"Iya, mbak. Maaf, orangnya soalnya baru. Setelah ini saya aja yang akan menghandle," ujar salah seorang karyawan yang mencetak undangan itu.

"Ya sudah, mohon segera ya mas. Kan kita juga butuh waktu untuk sebar undangan," ujarku.

Pemuda itu pun pergi. Iskha memegang kepalanya. 

"Sudah dong, kamu pasti lagi capek, lagi PMS?" tanyaku.

"Iya kaya'nya," jawab Iskha. Ia lalu merebahkan diri di sofa. 

Aku lalu mengambil ponselku dan menceklist sesuatu yang sudah aku lakukan. "Oke, gaun sudah, catering sudah, tempat resepsi sudah, penghulu sudah, tinggal undangan aja berarti."

"Mas Faiz," panggilnya.

"Ya? Ada apa?" tanyaku.

"Mas yakin nggak mau mengundang Pak Hendrajaya? Kan dia ayah mas??" 

Aku terdiam. Aku sudah berjanji tak akan kembali ke sana lagi sebenarnya. 

"Ayolah mas, kan cuma mengundang. Mas sudah berjanji tidak pergi ke rumah. Tapi bukan berarti mas janji tidak mengundang mereka, kan?" tanyanya. 

Aku mendesah. Benar sih, bukan berarti aku tidak mau mengundang mereka. Baiklah. "Iya, aku akan megundang mereka."

"Sungguh?" tanyanya. Entah kenapa ia sangat gembira. Ia langsung bangkit dan memelukku. "Makasih ya mas."

****

"Saya terima nikahnya Iskha Kusumaningrum binti Sulaiman dengan mas kawin cincin emas 7 gram dan uang tunai sebesar Rp. 2.009.000,- dibayar tunai," kataku ketika ijab qabul.

"Gimana semuanya? Sah?" tanya pak penghulu.

"Saah..." seru semuanya.

"Alhamdulilah," jawabnya.
Akhirnya aku dan Iskha hari itu sah menjadi suami istri. Pesta pernikahan yang digelar cukup meriah. Tamu-tamu berdatangan mengucapkan selamat. Tamunya baik dari kalangan selebritis juga dari kalangan umum. Dari orang kaya sampai orang miskin. Yang membuatku takjub adalah mereka semua berbaur menjadi satu. Tertawa bersama, makan bersama. Iskha memang luar biasa membuat ide ini. Aku makin cinta ama dia. Dan dia sangat cantik hari itu. Memakai baju pengantin berwarna putih. Adatnya campuran adat sunda dan betawi. 

Dan aku akhirnya melihat seseorang dengan rombongan keluarga mereka. Aku mengenali mereka. Ayahku, bunda, Icha, Rendi, dan juga bunda-bundaku yang lain. Bunda Vidia, Bunda Nur, Bunda Laura dan anak-anak mereka, minus Mas Pandu. Agak aneh memang, mereka menjadi tamu dalam acara ini, ini emang ideku. Aku memang tak akan kembali ke rumah mereka, tapi bukan berarti aku tidak mengijinkan mereka juga ke tempatku. 

Yang paling pertama menyelamatiku adalah ayah. Ia memelukku dan menepuk pundaku. 

"Selamat nak, semoga kalian langgeng, jaga istrimu baik-baik!" ujarnya. "Pandu berada di rumah sakit, maka dari itu dia tak bisa menemui kalian. Ia hanya titip salam"

Aku mengangguk. "Makasih ayah."

Kemudian ayah pindah ke Iskha. "Iskha?!"

"Pak Hendrajaya," sapa Iskha. 

"Selamat ya nak, jaga Faiz. Jadi istri yang baik," kata ayahku.

Kemudian bunda. Aku mencium tangannya. Bunda mencium keningku. Ia lalu memelukku sambil menangis. "Faiz,...kamu sudah besar nak. Bunda bangga ama kamu. Jaga istrimu baik-baik yah??!"

"Iya bunda," jawabku. 

"Iskha....kamu cantik sekali. Jadi istri yang baik ya!" kata bunda.

Iskha mengangguk. 

"Ke mana Mas Pandu?" tanyaku.

Setelah salam-salaman dan ucapan selamat, acara pun selesai. Para tamu sudah pulang semua. Aku tak melihat Vira hadir. Ah tapi tak masalah. Hari itu aku berencana menginap di sebuah vila yang sudah aku sewa sebagai bulan madu kami. Dengan mobil yang aku pinjam dari Erik, aku pun berbulan madu dengan Iskha. 

****

"Heh, bengong aja!" kata-kata Iskha membuyarkan lamunanku.

"Hihihi, aku bingung apa ini mimpi ya?" tanyaku. 

"Enaknya mimpi atau nggak?" tanya Iskha. 

Aku sudah berada di kamar villa. Hari sudah mulai sore. Iskha sudah menghapus make upnya. Cukup gerah kami hari itu sehingga kami sudah mandi. Sudah memakai baju santai. Iskha tiduran santai di atas ranjang pengantin kami. Total aku sewa villa ini seminggu penuh. Ini termasuk villa ayahku sih. Sebenarnya bisa saja aku dengan gratis menempatinya, tapi aku tetap berprinsip tak mau menerima bantuan ayahku. Aku ya merogoh kocek sendiri tentunya. Patungan ama Iskha.

Iskha tampak sibuk bermain ponselnya. Bermain facebook, twitter, instagram. Ia bahkan foto selfie dengan diriku. 

"Mas, mas sini deh!" ia menarikku lalu selfie JEPRET!

"Buat apa?" tanyaku.

"Buat status 'Before first Night'!" guraunya. Aku ketawa.

"Ah, ada-ada saja!" kataku.

Dia menguploadnya ke facebook, twitter dan isntagram. Aku lalu duduk di sebelahnya. 

"Eh, kayaknya aku mulai hari ini akan manggil kamu Dinda deh," kataku.

Iskha menoleh ke aku, ia tertawa, "Issh...dinda? Trus aku harus manggil kanda gitu?"

"Yah...terserah situ sih," kataku.

"Oke, kanda," katanya. 

Aku terdiam lagi. Menatapnya. Inilah istriku. Wajahnya sekarang adalah wajah wanita yang paling cantik. Aku tak jemu-jemu memandangnya. Ia masih sibuk bermain ponsel. Setelah itu ia menoleh ke arahku. Ia memonyongkan bibirnya.

"Apaan sih? Ngelihat melulu," katanya.

"Nggak apa-apa kan? Melihat wajahmu saja adalah ketentraman bagiku," jawabku. 

"Ih...lebay," ujarnya. 

Aku lalu merebut ponselnya. Ia mencoba merebutnya. 

"Eit,...nggak kena," kataku.

"Ihh...kanda...kasih dong!" pintanya.

Ia lalu ambruk di atas tubuhku saat merebut ponselnya. Wajah kami pun bertemu. Aku bisa rasakan detak jantungnya di dadaku. Perlahan lahan aku letakkan ponselnya di meja dekat ranjang. Aku lalu menciumnya. Ia mendorongku.

"Ini belum malam lho, ntar nggak bisa dong disebut malam pengantin," katanya.

"Peduli amat," jawabku.

Aku menciumnya, satu, dua, tiga. Bau tubuh kami sudah wangi karena barusan mandi. Bau sabunnya membuatku terangsang. Kuhisap salivanya. Iskha memelukku erat. Ia menggeliat. Aku ingin melampiaskan kerinduanku selama ini kepada dia. Dan aku bisa merasakannya bagaimana kerinduan yang dia rasakan kepadaku. 

"Kanda...," bisiknya lirih saat aku memasukkan tanganku ke balik kaosnya dan menggelitik punggungnya. Ia tak pakai bra. Aku sudah tahu itu. Karena itulah aku bisa merasakan detak jantungnya. Aku pun menaikkan kaosnya ke atas. Kini tubuhnya bagian atas terlihat jelas. Putingnya berwarna pink kecoklatan terpampang dihadapanku. 

Aku menciumnya lagi. Kini dialah yang menarik kaosku ke atas. Kami berdua sudah telanjang dada sekarang. Aku pun memasukkan tanganku ke baik celana pendeknya. Pantatnya sudah aku sentuh. Bongkahan pantatnya kuremas-remas. Dia menciumku lagi. Lalu dengan sedikit gerakan aku menurunkan celana pendeknya. Ia membantuku untuk melepaskannya. Aku kemudian berguling. Kini ia membantuku menurunkan celana pendekku. Dan saudara-saudara kita sudah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. 

"Ohh...Dinda," aku menciumi pipinya, bergeser ke leher, telinga dan dada. Kuhirup aroma tubuhnya yang menggoda. Sensasional sekali rasanya. Aku baru kali ini melihat tubuh Iskha seutuhnya. Kuciumi puting susunya dan kujilati. Kuhisap.

"Kandaaaa....aahhckk..," lenguhnya.

Aku lalu menjilati ketiaknya yang putih. Sungguh tubuh yang sempurna. Iskha menggelinjang. Aku lalu bergeser ke bawah, ke pinggang, ke pinggul lalu ke pantatnya. Ke pahanya. Pahanya lalu aku peluk dan kujilati. Hisap, hisap. kecup, kecup. Buah adanya aku belai lagi,kuremas. Kedua tangannya memegang tanganku.

Wajahku sekarang sudah berada di depan liang surgawinya. Baunya sangat khas. Aku tak pernah melihat miliknya sebelumnya. Walaupun ia pernah mengoralku. Iskha melebarkan kakinya. Ia seolah-olah tahu bahwa aku sudah berada di depan miliknya yang paling berharga. Inikah milik istriku? Ada sedikit rambut di atasnya. Aku ciumi bibir memeknya. 

"Aaaahh,....kandaaa!" panggilnya. 

Aku mencolok-coloknya dengan bibirku. Lidahku lalu berbicara. Kusibakkan memeknya dengan tanganku, lalu lidaku menyapunya. 

"Aaaaaaahhhhhhhkkk.....!" jeritnya.

Lalu lidahku sudah menari-nari di belahan memeknya. Iskha mengerang , menjambak dan mengapitku. Ia menggeliat seperti cacing di atas wajan penggorengan. Iya aku sedang menggoreng. Menggoreng nafsunya. Saat aku sibuk mengoral memeknya, tanganku mencubiti puting susunya. Kedua tangannya memegang tanganku.

"Kandaaa......aaahhhh....ahhh...sudah...dinda mau pipiss..," katanya dengan suara agak imut. Ia menggeliat makin menjadi dan badannya naik melengkung ke atas. Mulutnya menganga, matanya memutih. Ini orgasme pertamanya. Cairan asin yang keluar dari memeknya itu aku hisap. 

Ia segera bangkit. Aku berbaring. Ia berinisiatif sekarang. Batangku sekarang digenggamnya. Dipijat-pijat, dikocoknya. Mulutnya sekarang menari-nari di pusarku. Ohhh...nikmatnya. Ia menstimulus libidoku sekarang. Lalu turun ke bawah. Dan lidahnya sekarang berputar-putar di kepala penisku. Dia melihat ke arahku sambil menjilati pusakaku itu. Membuatku benar-benar bernafsu. Mulutnya terbuka lebar dan memasukkan kepala penisku ke dalamnya. Dikulumnya benda lunak-lunak keras itu. Kepalanya kini naik turun. 

"Aahhkkk...dinda...enak sekali...nikmaat....," kataku.

Tangan Iskha sekarang memijat-mijat buah pelerku. Yang satunya mengocok lembut. Diimbangi dengan permainan mulutnya yang maut. Ia benar-benar belajar banyak. Aku sekarang dioral lagi olehnya. Tapi kini rasanya lebih mantab. Lidahnya seperti biasa menggelitikku. Sedangkan kepala penisku sudah ada di dalam mulutnya. ENtah ia apakan itu sampai penisku serasa geli sekali. Bahkan kalau aku tidak mendorongnya mungkin aku bisa ejakulasi saat itu juga. 

Kemaluanku sudah berkedut-kedut, ketika aku baringkan tubuhnya di bawahku. Ia sudah mengerti arah dari gerakan ini. Mengambil keperawanannya. 

"Dinda siap?" tanyaku. 

Sambil menganggukkan kepala ia memejamkan matanya. "Pelan-pelan kanda sayang!"

"Pasti dinda," kataku. 

Penisku sudah ada di depan lubangnya. Aku gesek perlahan. Iskha memejamkan matanya meresapi seluruh sensasi penisku secara langsung. Ia selama ini merasakannya dari balik kain. Kini, ia menyentunya langsung. Punyaku benar-benar sudah tegang. Kaki Iskha makin melebar, ia memasrahkan mahkotanya kepadaku sekarang. Ia sudah rela. Tangannya diapitkan ke leherku, kedua tanganku berada di bawah punggungnya. Aku sudah menemukan lubangnya, karena ia sangat licin sekarang ini. 

"Aku datang dinda," kataku.

BLESSS SREETT! Sempit, penisku seperti ditarik-tarik. Kepalanya seperti disedot-sedot dan diremas-remas.

"Aaaahhkkk....kandaaaa...sakiiit!" katanya. 

Aku menciumi dia. Kuhisap lidahnya. Aku terus menciumnya tanpa menggoyangkan pantatku. Kubiarkan penisku menyesuaikan diri. Aku tarik perlahan dan kudorong lagi dengan tekanan. SREETTT! Aku bisa merasakan penisku mulai menerobos. Mungkin karena ukuran penisku yang panjang membuat dia sedikit kesakitan. 

"Teruskan kanda, aku akan menahan rasa sakit ini. Semua ini untukmu!" Iskha menatapku lekat-lekat. Mata kami sudah beradu. Aku mencium dia. Aku tekan lagi pinggangku ke bawah. Batangku mulai masuk. Ia mencengkram punggungku, kakinya mengapit pinggulku.

"Ohh...Iskhaa....aaahaakk...nikmat sekali," kataku.

"Kandaa...ohhh...sakit kanda, tapi nikmat....," ujarnya.

Aku teruskan dorong hingga mentok. Kemaluan istriku berkedut-kedut sekarang. Ku sudah mentok. Tak bisa maju lagi. Aku pun merasakan menerobos sesuat yang sangat rapat, lalu setelah di dalam rasanya longgar. Tapi batangku masih serasa diremas-remas. Iskha menggigit bibirnya. Kami berciuman lagi. Setelah beberapa saat kemudian. Aku mulai menaik turunkan pinggangku. CLEK! CLEK! CLEK! Suara kemaluan kami benar-benar becek dan basah.

"Kanda! Terus kanda!" katanya. "Nikmat banget...! Oh,...aahh....!"

"Dinda....enak banget memekmu," kataku.

Aku bergerak naik turun. Begitu aku sudah ingin keluar aku berhenti, menahannya agar jangan keluar dulu. Saat itulah Iskha menjerit. Ia orgasme lagi. 

"Aku barusan keluar kanda. Kanda belum?" tanyanya.

"Belum dinda. Kanda ingin merasakan dinda dulu. Kanda belum puas," jawabku.

"Iya kanda, teruskan...ohhh.....!" katanya.

Aku bergoyang lagi. Cukup gaya misionari saja menurutku. Ini saja sudah nikmat bukan kepalang. Orang yang ku cintai sekarang bercinta denganku. Kupeluk dia. Kuciumi. Aku juga menyusu kepadanya lagi. Paling tidak pertahananku tak jebol hingga ia sudah keluar sampai tiga kali. Aku pun akhirnya sudah mentok. Penisku serasa gatal sekali ingin keluar. Entah berapa banyak pejuku yang akan muncrat. Tapi aku bisa rasakan sangat banyak. 

"Dinda, jadilah ibu dari anak-anakku!" kataku.

"Tentu kanda, semburkanlah manimu. Tanamkan benih-benihmu di rahimku. Aku akan menjadi ibu dari semua anak-anakmu," katanya. 

Gerakanku makin cepat. Penisku sudah gatal sekali. Rasanya geli-geli di ujung.

"Kandaaa...aku bisa merasakannya, penis kanda keras banget!" katanya.

"Dinda, aku keluuuaaaaaaarrrr! AArrgghh...! Banyak dinda!" seruku.

Iya, aku keluar banyak sekali. Sperma hangatku membasahi rahim istriku. Kami berpelukan erat sekali. Orgasme itu serasa sangat panjang dan lama. Aku lalu ambruk di samping tubuhnya. Nafas kami terengah-engah. Penisku masih menancap, perlahan-lahan setelah tenang aku mencabutnya. Belum, pusaku belum tidur, baru setengah tidur. 

Aku melihat banyak sekali lendir yang keluar di bawah sana. Bahkan aku bisa melihat bibir memeknya dipenuhi cairan berwarna putih pekat kental dengan bercak darah. Penisku juga ada bercak darahnya. Ia benar-benar menyerahkan keperawanannya kepadaku. Iskha terkapar penuh kepuasan. Aku lalu mengambil selimut dan menutupi tubuh kami berdua. Kurangkul dirinya yang kelelahan itu. 

"Makasih dinda, telah memberikan apa yang paling berharga untukku," kataku.

"Iya kanda. Dinda senang sekali," ujarnya. Aku memeluknya. 

Oke itu baru ronde pertama. Setelah Iskha pulih dari rasa lelahnya. Kami mengulanginya lagi. Kini dengan gaya berbeda. Hampir seluruh gaya kami lakukan. Seharian eh, semalaman itu kami gunakan hanya untuk bercinta dan bercinta. Sampai aku kering. Kami pun tertidur karena kelelahan hingga mentari suda naik.

****

Bangun tidur aku tak mendapati Iskha. Setelah aku bangkit aku melihat dia tampak sedang membawakan aku sesuatu di nampan. Ia tak memakai baju sama sekali.

"Sarapan," katanya.

"Hmm...kalau tiap hari dimasakin chef seksi seperti ini, mana tahan!" kataku.

"Huuu maunya," katanya.

Aku dan dia lalu makan roti bakar sandwich dan pancake yang ia barusan buat. Tubuh Iskha sangat cantik. Mulus, tak ada cacat. Bagai sang dewi turun dari kayangan. Terlebih ketika tersenyum. Kami lalu minum susu di gelas yang sama. Aku setengah gelas. Ia setengah gelas. Baiklah saudara-saudara, karena aku sudah kenyang, dan barusan minum susu. Melihat ia telanjang tanpa sehelai benang pun tahulah apa yang terjadi berikutnya. Aku nyosor aja. Toh kami sudah resmi jadi suami istri siapa yang ngelarang?

Seminggu di villa itu pikiran kami cuma sex dan sex. Semua dahaga terpuaskan di sana. Aku dan Iskha tak pernah pakai pakaian dalam. Semua itu agar untuk mempermudah, hehehe.... Tapi nggak melulu di kamar lho. Kami juga jalan-jalan di kebun dan melihat pemangan sekitar villa. Karena memang pemandangannya sangat indah. Kami sangat senang sekali. Bahkan mungkin saat itu dunia serasa milik kita berdua, yang lain ngontrak aje ye.

NARASI ISKHA

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaa! 

Mungkin itulah komentar kalau kamu bercinta dengan orang yang kamu cinta. Sekali ML akan ketagihan, pengennya gituuuuuu mulu. Huft.  Lihat aja Mas Faiz. Di villa kemarin tempat kita bulan madu ...hhmm...mungkin nggak tepat ya disebut bulan madu, kita cuma seminggu koq. Soalnya Mas Faiz harus segera kerja. Jadi yaahh...kan bisa disambung di rumah. Hihihihi.... Dan yah begitulah, kepengeeeennnnn terus. Baru berhenti kalo udah bener-bener capek. Ngelayanin suamiku sampe hampir semua tulang-tulangku rontok. Selalu di KO ama dia. Dan kalau aku lagi capek, pasrah aja deh, terserah deh kanda, kamu apain aku. Eh tapi aku suka koq. 

Lagian kami juga baru beli rumah. Patungan uangku ama uangnya Mas Faiz. Kerja jadi artis dengan job banyak boleh juga ya ternyata, tapi....aku suka deh ama prinsipnya Mas Faiz. Dia bener-bener nggak mau nguta-atik uangku kalau bukan aku yang ngasih. Hihihi, ibaratnya uang suami adalah uangku, uangku ya uangku sendiri 

Oke kembali ke kehidupan kami. Semenjak kami menikah aku jadi tahu banyak tentang kebiasaan Mas Faiz. Dia itu kalau tidur, kalau capeeek banget pasti mendengkur. Trus orangnya sering berantakin lemari, jadinya aku yang harus ngerapiin, trus kalau sudah kepengen lupa segala-galanya.  COntohnya waktu itu aku sedang sibuk di dapur nyiapin bekalnya atau sedang bersih-bersih rumah, awalnya dia peluk aku dari belakang, ciumin leherku. Naaah...kalau sudah begini lanjut deh. Aku emang orangnya gampangan horni kalau diciumi leherku.

Tapi meskipun begitu dia pinter masak lho. Aku aja ternyata kalah jago. Dia juga paling sebel kalau ada baju kotor. Pasti kerjanya laundry mulu. Satu hal yang baru aku tahu dari cowok adalah kalau di kamar mandi ada cermin dia pasti ngaca, bergaya gitu. Aneh kan??? Kadang aku heran ketika dia keramas. Eh rambutnya dibentuk mohawk gitu sambil ngaca. Pas aku lihatin dia salah tingkah. Hihihihi...Kadang juga begaya nyanyi-nyanyi gitu sambil pake gayung. Heran deh. Apa semua cowok gitu ya??

Nah, karena sering gituan, jadi ya wajarlah kalau setelah itu aku hamil. Sebulan pertama nggak kerasa. Nah, bulan kedua aku telat haidh. Trus aku test deh dan hasilnya positif. Aku elus-elus perutku pagi itu.

Tampak Mas Faiz sedang sarapan pagi itu. Hari itu aku mual banget, mau bikin sarapan pancake aja rasanya eneg lihat minyak goreng. Akhirnya Mas Faiz masak sendiri. Habis dari kamar mandi karena mual aku menemaninya di meja makan.

"Kenapa? Masuk angin?" tanyanya.

"Masa' masuk angin gara-gara lihat minyak goreng sih, nda?" kataku.

"Hmm??" ia menegakkan alisnya. "Positif?"

AKu mengangguk. Wajahnya langsung berubah.

"Serius?" tanyanya lagi.

Aku melemparkan hasil testpack dua strip yang aku cek tadi pagi setelah bangun tidur. 

"YEEEESSSSSSSSSSSSSS!" tiba-tiba ia melompat sampai kursi meja makan jatuh. Kaget aku. [-_-]

"Mas, mas, udah. Biasa aja dong. Kaget aku," kataku. Lucu juga melihat suamiku seneng gitu. 

"Aku jadi ayah, aku jadi ayah!" Mas Faiz muter-muter gak jelas gitu. Trus ia langsung berlutut di hadapanku sambil menciumi perutku. "Muuuachh....mmmuuuacchh! Cepet keluar ya dede kecil, biar ntar ayah gendongin siang malem."

Aku bahagia dan tambah bahagia dengan benih cinta yang dia tanam ini. Namun ternyata ujian cinta kami tidak berhenti sampai di sini. Dan yang ini aku harus mengalah demi Mas Faiz dan orang yang sangat mencintainya.

Wasiat
Bicara mengenai menggebu-gebu dalam berhubungan, yup, kami benar-benar menggebu-gebu. Hampir tiap bahkan tak mengennal tempat. Hingga tak heran kalau dua bulan kemudian Iskha dinyatakan hamil. Aku senang sekali. Begitu tahu hamil aku langsung melompat-lompat, pokoknya senang banget. Mendapatkan anugrah yang tak terkira ini benar-benar membuatku bahagia. Iskha juga sangat senang, cinta kami akan bertambah lagi dengan kedatangan buah hati. Heran aja sih, begitu tahu kabar istriku hamil, eh media langsung minta konfirmasi. Dari mana juga tahu???

"Iya, aku sedang hamil 2 bulan pemirsa," ujar Iskha saat diwawancarai sebuah stasiun tv. "Do'ain aja agar kandunganku sehat dan lahir dengan selamat."

"Bapaknya seneng dong mbak pastinya?" tanya sang reporter.

"Ya iyalah, tahu aku hamil langsung melompat-lompat kaya' anak kecil dia," katanya sambil tertawa.

Sayangnya aku nggak diwawancarai. Ah, whateverlah. Yang penting aku senang banget. Kabar tentang hamilnya istriku mendapatkan sambutan yang baik dari keluargaku dan keluarga Iskha. Yang datang ke rumahku bergantian. Pertama ayahku, beliau mengucapkan selamat. Kemudian bunda. Ia sangat senang sekali. Bahkan mulai mengatur-ngatur agar istriku makan makanan yang sehat. Lalu mertuaku, sama aja sih. Lebih khawatir calon jabang bayinya daripada orang tuanya. Hihihi...aku bisa menyadari koq. Maklum cucu pertama.

Setelah lulus dari Havard aku mendirikan perusahaan sendiri di bidang Teknologi Informasi, khususnya di bidang mobile. Aku masih punya sisa uang di tabungan sekitar 200jt. Dengan modal segitu akun pun mendirikan software house kecil-kecilan. Yah, lumayanlah dapat penghasilan yang tak sedikit juga. Paling tidak aku sekarang sudah mandiri. Nggak butuh bantuan keluargaku lagi. Penghasilan Iskha juga banyak. Dan ia malah berinisiatif untuk gabungin saja penghasilannya. Tapi aku melarangnya. Uangku adalah untuk kita berdua, sedangkan uangmu untuk dirimu. Itulah prinsipku. Well, dia setuju aja sih. Aku hanya ingin bisa bertanggung jawab terhadap keluargaku. 

Aku sudah lama tak melihat Mas Pandu. Bahkan setelah hari pernikahan pun tidak melihatnya. Aku tak tahu kabarnya. Hingga ayah menelponku untuk segera ke rumah sakit. Aku tiba di rumah sakit bersama Iskha. Dan di sana semua keluarga berkumpul. Dan...ada Vira. Ia menangis. Beberapa anggota keluarga juga menangis. Aku masuk ke kamar dan mendapati seseorang sudah terbujur kaku dengan ditutupi selimut di sekujur tubuhnya. 

"Mas Pandu?" panggilku. 

Aku sibakkan selimutnya. Tampaklah wajah Pandu yang sudah terbujur kaku. Tubuhnya sudah dingin. Ia sudah tak bergerak lagi untuk selama-lamanya. Aku pun menangis saat itu, tiba-tiba tubuhku lemas. 

"Mas Pandu, bangun! Ini nggak lucu, bangun mas! Ayah, tolong jangan bercanda. Bangunin Mas Pandu! Bangunin yah!" kataku sambil menarik tangan ayahku. "Ayo yah, bangunin! Ayah bisa melakukan apa saja. Ayah punya banyak uang, punya banyak kekayaan, gedung ayah ada di mana-mana. Kenapa ayah tak bisa membangunkan Mas Pandu? Ayaah, bangunin Mas Pandu yaaahh...."

Iskha lalu mendekapku dan mencoba menenangkan aku. Aku pegang tangan Mas Pandu. Tangannya dingin. 

"Mas Pandu sudah tak bisa menulis lagi sejak lama Kanda. Dia sudah lumpuh, tak bisa apa-apa. Hanya bisa bicara," kata Iskha. 

"Ini sudah terjadi Faiz, relakanlah!" kata ayahku.

"Mas Pandu....!" panggilku lagi. 

"Awalnya kakinya, lalu organ-organ tubuh yang lain, kemudian tangan, saraf-saraf motoriknya mulai tak bekerja dengan normal, kelumpuhan total lalu inilah saatnya," kata ayahku. "Berterima kasihlah kepada Vira. Ia menjaga kakakmu sampai akhir hayatnya."

Kemudian ayah meninggalkanku. Bunda datang langsung memelukku. Ia sangat faham akan kesedihanku. Pandu yang selalu bersama denganku, bermain bersama, tumbuh bersama, sekarang sudah pergi duluan. Setelah semua anggota keluargaku pergi, kemudian Vira masuk ke ruangan. Ia tampak menangis. Iskha menghampiri Vira dan memeluknya. 

"Aku sekarang tak ada tempat lagi untuk kembali Iskha, Pandu sudah pergi, huuhuuuu....," Vira menangis tersedu-sedu. 

"Katanya di telepon ada sesuatu yang ingin kau tunjukkan kepadaku?! Mana?" tanya Iskha.

"Aku tak jadi. Aku tak mau menunjukkannya," ujar Vira. 

"Tidak, ayo tunjukan. Itu pesan terakhir Mas Pandu bukan?" kata Iskha. 

Vira menyembunyikan sesuatu sepertinya.

"Tidak Iskha, jangan paksa aku. Aku bahkan ingin menghapus ini. Kau tak boleh, kalian tak boleh melihatnya!" kata Vira. 

"Apa? Apa yang kau sembunyikan dariku?" tanyaku.

"Kumohon jangan paksa aku. Aku lebih baik mati daripada kalian melihatnya," kata Vira. 

Ia sepertinya melindungi tas yang ia bawa.

"Itu wasiat terakhir Pandu bukan? Tunjukkan kepada kami mbak, AYolah!" bujuk Iskha.

"Aku tak mau, aku akan membuangnya," kata Vira.

Aku lalu merebut tasnya. Kami terjadi aksi saling menarik. Tapi tenagaku lebih kuat. Di dalam tas itu ada sebuah ponsel. Ponsel milik Pandu. Aku masih ingat ponselnya. Inikah yang ingin disembunyikan oleh Vira. Aku lalu melihat folder Video. Ada sebuah file yang sepertinya baru dibuat beberapa waktu yang lalu.

"Kumohon jangan diputar! Kumohon. Kalian sudah bahagia aku tak mau merusaknya. Faiz, jangan lakukan itu kumohon! Jangan diputar! Kumohon!" Vira tiba-tiba bersimpuh di hadapanku.

Apa yang sebenarnya terjadi? Aku pun memutar video itu. Ada wajah Pandu. Vira pun menangis meraung-raung. Iskha mencoba menenangkannya.

"Tenanglah mbak, semuanya akan baik-baik saja," hibur Iskha.

"Kalian tidak mengerti, kau tidak mengerti. Faiz, buang ponsel itu, kumohoonnn!"

"Hai Faiz, gimana kabarmu? Kamu sudah menikah ya? Selamat deh. Sayang aku nggak bisa datang bro, lu tahu sendirikan gimana keadaan gue," aku melihat Pandu terbaring lemah. Yang merekam pasti Vira. "Vira merekam video ini. Vira, ingat ya, apapun yang aku ucapkan kau tak boleh menangis, kau harus tegar dan ini sudah menjadi keputusanku. Dan bro, aku membuat video wasiat ini tanpa paksaan siapapun, Vira tolong sorot Pak Dokter! Dan orang-orang yang ada di sini!"

Vira lalu mengarahkan ponsel ke semua orang yang ada di ruangan itu. Aku melihat dokter, suster, ayah, dan dua orang yang aku tak kenal. 

"Ada dokter rumah sakit, ia sudah memeriksaku bahwa aku nggak gila bro, tenang aja. Ada ayah, ada ibu, dan kedua orang tuanya Vira. Well, aku bangga punya saudara kuliah di Havard. Bangga sekali. Berharap kamu jadi Bill Gatesnya Indonesia. Hahahaha. Duh, sekarang buat tertawa saja aku susah. Andainya kaki ini masih bisa gerak, aku akan main futsal ama kamu. Kalau tanganku ini bisa gerak, aku akan meninjumu bro. Ya, aku akan tinju kamu sekuat tenaga sampai pingsan. Tahu kenapa? Karena kau membohongiku. Aku sebenarnya mendengarkan percakapanmu dengan Vira di ruang UKS itu. Kau mengalah demi aku, itu bukan tindakan ksatria. Bukankah kita sama-sama sudah sepakat kalau siapapun yang dipilih Vira pasti harus menerimanya? Kenapa kau tak lakukan itu? Kenapa Vira juga tak jujur kepadaku?

"Tapi tenang bro. Vira sudah mengakui koq. Akulah yang salah. Aku memanfaatkan keadaan ini. Sehingga aku merebut Vira darimu, aku tak tahu kalau kamu susah untuk move on, aku sedih bro. Apalagi Vira tak pernah mencintaiku selama ini. Di hatinya hanya ada kamu dan kamu. Faiz, Faiz, Faiz. Bagaimana kabar Faiz? Faiz baik-baik saja? Bagaimana Faiz ketika kecil? Suka apa dia? Dia selalu tanyakan itu kepadamu bro. Itu sakit bro, sakit! Vira...viraaa...kumohon jangan nangis. Aku tak mau videoku goyang-goyang! Oke, begitu....lanjut bro. Aku sakit bro. Sudah deh, daripada aku juga sakit hati. Mending Vira aku putusin aja. Aku suruh dia kembali ke elu. Tapi.....sayang sekali elu sudah punya Iskha. 

"Jujur aku iri kepada kalian. Kalian mesra banget, pake pamer gandengan tangan segala. Aku saja tak pernah nyentuh VIra. Tenang aja, onderdilnya masih bagus, masih kinclong aku tak pernah menyentuhnya. Yeee...malah ketawa. Vira, jangan digoyangin. Sorry bro, gangguan teknis. Ini aku ingin ngasih wasiat terkahir buat lo. Dan elo harus melakukannya. Lo suka atau tidak, lo terima atau tidak. Di sana ada Iskha? Kalau ada bagus deh. Aku ingin dia dengar juga..."

VIra tiba-tiba berteriak, "Jangaaaannn! JAngaaan...! FAizzz matikaaan..kumohoooonn...!" Iskha memeluk Vira agar tenang.

"Ingat ya, lakukan wasiat terakhirku, kalau tidak aku akan bangkit dari kubur dan kumakan daging lo. Aku sumpahin sampe anak cucu lo hidup menderita tujuh turunan kala kamu nggak melakukan apa yang ingin aku sampaikan ini. OKe, sudah siap? Nah, aku ingin kamu nikahi Vira..."

Tiba-tiba ada suara Vira, "Pandu apa-apaan ini, sudah aah..ngaco kamu!"

Pandu melanjutkan, "Vira, ingat kamu sudah janji apapun yang aku sampaikan kau tetap merekam!"

"Pandu kamu ini mau apa?" tanya ayahku di rekaman itu.

"Ayah tenang aja, nggak usah ikut campur! Oke lanjut lagi. Kamu dengar Faiz? Nikahi Vira. Sebab ia tak punya tempat untuk kembali. Cintanya terlalu besar untukmu. Cintanya bukan untukku. Aku tahu kedengarannya ini konyol, tapi ini keputusanku. Dan...Iskha, maafkan kakak iparmu ini ya. Ini semua demi orang-orang yang aku cintai. Demi Faiz, demi Vira. Aku tak bisa hidup tanpa mereka. Kamu sudah mengambil Faizku, dan sekarang aku menyerahkan Vira kepada suamimu. Aku akan tidur tenang setelah ini. Kumohon ijinkan Faiz menikahi Vira, demi aku...demi aku......"

Video itu berakhir. Vira menangis dengan keras sekali. "Jangan lakukan itu! Aku mohon itu wasiat terbodoh yang pernah aku dengar. Aku tak mau melukai kalian. Aku hanya duri bagi hubungan kalian. Aku tak mau melakukannya."

NARASI ISKHA

Video itu benar-benar menggetarkan hatiku. Sampai segitunya Mas Pandu memikirkan Faiz dan Vira. Aku pun ikut menangis. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi Vira. Menjadi perusak hubungan rumah tangga seseorang. Apa keputusan suamiku? Dadaku bergemuruh. Vira terus memelukku dan berkata "Jangan kalian dengarkan wasiat itu, aku mohon!"

Kenapa, kenapa suamiku tak bisa bicara sekarang? Bicaralah kumohon kandaa....Tidak,...ia tentu saja tak bisa bicara. Sebab Mas Pandu memohon kepadaku. Mas Pandu...Vira..., iya, Vira selama ini selalu menemani Mas Pandu, mengurusi mas Pandu. Padahal ia sama sekali tak mencintainya. Ia lakukan itu dengan tulus. Vira juga yang seharusnya selama ini jalan dengan Mas Faiz. Bukan diriku. Seharusnya dia sekarang sudah menikah dengan Mas Faiz, bukan diriku. Akulah duri terbesar dalam hubungan mereka. 

Tapi....mas Faiz sudah memilihku. Memilih sesuatu yang menghalangi cinta Vira kepadanya. Oh Tuhaan...cobaanmu sungguh berat. Aku mencium kening Mbak Vira. 

"Ayo berdiri mbak!" ajakku.

"TIdaak...aku tak mau berdiri! Aku memohon kepada kalian tolong jangan dengarkan Pandu, kumohon!" kata Vira dengan histeris.

Aku memaksanya untuk berdiri. 

"Sudah, sudah! jangan menangis lagi! Baiklah kami tak akan melaksanakan wasiat Mas Pandu!" kataku.

"Sungguh?" katanya sambil menghentikan isak tangisnya. Matanya sembab, air matanya entah berapa banyak yang keluar.

"Tapi, ada wasiat Mas Pandu ataupun tidak aku inginkan hal yang sama seperti apa yang diinginkan oleh Mas Pandu," jawabku. 

"Dinda, apa-apaan ini?!" kata suamiku.

"Iskha, tidak. Aku tidak mau menjadi penghancur rumah tangga kalian!" kata Vira.

"Mbak Vira, aku tahu mbak sangat mencintai Mas Faiz lebih dari siapapun. Lebih dari apapun. Hal ini cukup menjadi bukti betapa orang lain bisa tahu rasa cinta mbak kepada Mas Faiz sangat besar. Dan mungkin tak sebanding cintaku kepada Mas Faiz. Mbak cinta pertamanya, dan aku yakin dia cinta pertama mbak. Aku hanyalah sebuah taman bunga di antara pertemuan kalian. Aku tak menyesal kalau seandainya kalian bisa bersama. Aku ikhlas mbak, aku rela. Aku mendengarkan semua yang Mbak Vira dan Mas Pandu bicarakan di taman itu, aku tak sengaja ada di sana. Aku tahu bagaimana perasaan Mbak Vira kepada Mas Faiz. Sungguh aku tak akan bisa dan tak akan kuat seperti Mbak Vira. Mampu menahan cintanya sampai sebegitu dalamnya sampai sekarang. Mbak Vira....Kanda!"

Aku memegang tangan mereka berdua, lalu perlahan-lahan menyatukannya.

"Kanda,...nikahilah Mbak Vira, aku mengijinkannya. Aku bisa menjadi saudaranya," kataku. 

Tiba-tiba mas Faiz merangkulku. "Kau tak perlu melakukan ini Dinda.....tak perlu..."

"Tapi aku perlu melakukannya. Karena aku mencintaimu," kataku.

NARASI FAIZ
Video wasiat Mas Pandu itu mengubah semuanya. Ternyata ayahku tahu apa yang terjadi. Lalu kenapa dia diam saja? Inikah alasannya kenapa Vira tidak datang di acara pernikahanku. Inikah juga alasan kenapa mereka diam saja ketika aku tanya di mana Pandu? Mereka ingin agar tidak merusak acara pernikahanku. Maka dari itulah mereka melakukannya. 

Semuanya sekarang berkumpul. Iya, aku mengundang mereka semua. Mulai dari ayah dan istri-istrinya, serta saudara-saudaraku dari Bunda-bundaku yang lain berkumpul semua. Iskha sangat senang ketika aku melakukan hal ini. Ia sejak dulu ingin melihatku bisa berkumpul bersama keluargaku lagi. Inisiatifku ini tentu saja membuat dia tak henti-hentinya memujiku. 

Rumahku serasa ramai sekarang. Bukan rumah yang besar soalnya. Tak seperti rumah ayahku yang bisa menampung orang lebih banyak. Tapi bukan masalah muat atau tidak muat sekarang ini. Masalahnya adalah kebersamaan. Aku akan melamar Vira hari ini itulah sebabnya hari ini kami akan berangkat bersama. Setelah dari rumah sakit itu Vira tak ingin menemuiku lagi. Dan aku berencana aku beserta seluruh keluargaku untuk menjemputnya. Aku ingin melaksanakan wasiat Mas Pandu untuk terakhir kali. Walaupun menurut Vira itu adalah hal bodoh tapi aku akan melakukannya. Dia mengancamku kalau ia sampai melakukan wasiat Mas Pandu dia tak akan menganggap aku sebagai temannya lagi.

"Semuanya, terima kasih kalian repot-repot mau datang ke rumahku yang tak begitu besar ini," kataku. 

Mereka semua menoleh ke arahku. Tampak wajah-wajah bahagia menoleh ke arahku. 

"Hari ini, aku ingin minta maaf kepada kalian semuanya. Kuharap kalian tidak keberatan membantuku hari ini. Sebab apalagi yang aku punya? Apalagi yang aku bisa? Tanpa keluargaku, tanpa kalian aku bukan siapa-siapa," kataku. "Hari ini, aku ingin ke rumah Vira. Aku tahu dia pasti akan marah besar kepadaku hari ini. Dia akan menolakku. Aku ingin kalian semua membantuku hari ini. Demi wasiat terakhir Mas Pandu."

Ini untuk pertama kalinya aku memohon kepada seluruh anggota keluargaku. Ya, aku memohon kepada mereka. Untuk pertama kalinya juga aku membungkukkan badan kepada mereka semua. 

Ayah maju ke depan. Dia menoleh ke arah Iskha. Lalu mengangguk kepadanya, kemudian dia tersenyum kepadaku. 

"Kami selalu ada untukmu anakku. Apapun yang kau inginkan hari ini, aku akan mendukungmu. Aku hari ini berterima kasih kepada Iskha, perjuangannya tidak sia-sia hingga hari ini aku bisa berdiri di sini. Selamat datang kembali nak. Kami sudah sangat lama menanti kamu untuk kembali kepada kami. Kamu nggak salah milih seorang istri," kata ayahku. 

Ayahku, walaupun kata orang dia dingin, keras dan tegas tapi dia orang yang lembut kepada anak-anaknya. Aku sudah bersalah banyak kepadanya. Wajahnya sudah keriput dan rambutnya sudah memutih. Senyumnya tersungging di wajahnya. Dia selama ini orang yang melindungiku, menyayangiku, bahkan dia jugalah orang yang selama ini membantu Iskha. Ia juga meyayangi Iskha seperti anaknya sendiri.

Tak ada kata-kata yang bisa aku ucapkan aku hanya bisa memeluk ayahku. Beliau menepuk-nepuk punggungku. Bunda sekarang menghampiriku. Ayah melepas pelukanku dan kemudian berkumpul bersama anggota keluarga lainnya.

"Ayo semua, kita bantu Faiz. Zahir, mohon siapkan kendaraan. Risma, kumpulkan apa saja yang harus dibawa. Ayo, kita buat agar Vira tak menolak Faiz," kata ayah. 

"Ayo! Ayo!" seru mereka semuanya. Setelah itu mereka sibuk sendiri-sendiri. 

"Faiz, bunda ingin bicara ama kamu," kata bunda. Beliau pun mengusap-usap pipiku. "Pada saat seperti ini, tak ada yang bisa bunda berikan kepadamu selain do'a. Kau sudah dewasa, kau sudah mandiri. Kau telah membuktikan bahwa tanpa ayahmu kau bisa jadi orang besar. Kau juga telah bekerja sekeras ini. Sejujurnya apa yang terjadi hari ini mengingatkan bunda kepada ayahmu dulu."

"Kenapa bunda?" tanyaku.

"Dulu ayahmu bertahun-tahun mencari bunda. Dia berjuang untuk mencari bunda. Dia memperjuangkan cintanya. Dan aku ingin kamu juga bisa memperjuangkan cintamu. Kamu masih mencintai Vira?"

"Aku tak tahu bunda."

"Jawab dengan jujur. Selama ini kamu melihat Vira bagaimana? Sebab sekali kita berangkat ke rumahnya kita tak bisa kembali lagi."

Memoriku dengan Vira pun kembali lagi. Aku ingat bagaimana dulu aku mengejar dia ketika masih di bangku putih abu-abu. Aku juga masih ingat first kiss kita. Aku ingin melihat hatiku sekarang. Aku memejamkan mataku. Apakah aku mencintai Vira? Tidak, aku sebenarnya sudah move on. Move on ke Iskha, istriku sekarang. Lalu kenapa aku harus mengejar Vira lagi? 

Karena Mas Pandu. Itu mungkin alasan yang tepat. Tapi aku bisa saja menolak wasiat itu. Aku bisa saja menolaknya. Jadi bukan karena itu. Aku membuka mataku. Kulihat Iskha masih tersenyum kepadaku. Senyumannya benar-benar melumerkan hatiku. Aku mencintai dia. Aku sangat mencintainya. Mungkin juga terlalu mencintai dia. Iskha pun tahu itu. 

Aku masih ingat ketika di Amerika, aku selalu ingat dia. Mendengarkan lagu-lagunya. Aku rela pergi dari keluargaku demi dia. Aku bahkan berjuang untuk mencari dia ketika dia diusir dari rumahnya. Bersusah payah untuk dia itulah kenapa aku sangat mencintai dia. Dan rasanya kalau aku tidak mencintainya aku tak akan bersusah-susah berlatih musik memainkan lagu Cage Bird itu. Dan kalau aku tidak sangat mencintainya aku tak akan bersusah payah melamar dia di hadapan ribuan penggemarnya waktu itu. Dan kalau aku tidak sangat mencintainya......aku tak akan melakukan ini. 

Ya, inilah alasanku melamar Vira. Karena aku mencintai istriku. Karena aku mencintai Iskha. Karena Iskha yang menginginkannya. 

"Aku melakukan ini karena aku sangat mencintai Iskha bunda. Karena dia aku melakukan ini. Dan kita berangkat ke sana juga karena dia. Dan kalau bukan karena Iskha, aku tak akan kembali kepada kalian," kataku.

Itu adalah alasan yang paling masuk akal. Iskha yang menginginkan ini. Dia ingin Vira menerimaku menjadi suaminya. Aku tak tahu bagaimana perasaannya sekarang ini. Tapi aku tahu orang yang sedih orang yang tidak sedih. Iskha adalah orang yang mengekspresikan kata hatinya dari raut wajahnya. Dan keputusannya ini justru membuat ia senang dan tidak sedih. Aku masih ingat kata-katanya kemarin.

"Walaupun kanda mengatakan tidak mencintai Vira, aku masih bisa merasakan perasaan kanda kepadanya. Dulu ketika kanda bertemu Vira saat bersama Mas Pandu, kanda menggenggam erat tanganku. Itu pertanda kanda masih ada perasaan ke Vira. Itulah juga sebabnya dulu kanda mengejar dia ketika keluar dari kafe. Dan Dinda juga tahu, kanda masih ingin bersama Vira. Dinda sangaaaat mencintai kanda. Dan dinda juga tahu kanda juga sangaaaat mencintai dinda. Tapi pertemuan di rumah sakit itu sudah menjelaskan semuanya. Kanda masih mencintai Vira. Kalau kanda tak mencintai dia, kanda pasti akan membiarkan semua ini. Tapi dinda sangat mengerti, sebab kanda adalah belahan jiwaku."

Bunda tersenyum kepadaku. Beliau lalu menghampiri Iskha. Lalu mencium pipi istriku. "Kamu tahu Iskha, bunda nggak pernah melihat Faiz sangat mencintai seorang wanita seperti ini sebelumnya. Kau memberikan kehidupan pada keluarga ini. Kau juga yang mengembalikan serpihan jiwaku. Faiz adalah segalanya bagi bunda. Dan bunda menerimanya dari dirimu nak. Terima kasih telah mendampingi Faiz."

Bunda pun memeluk istriku. Dia sangat bahagia. Setelah itu kami pun berangkat.

****

Perjalanan ini benar-benar mendebarkan. Bagaimana tidak? Aku tahu bagaimana marahnya Vira kemarin. Setelah dari rumah sakit ia benar-benar pergi. Bahkan dia pun tak hadir di pemakaman Pandu. Aku tahu perasaannya. Dan aku memang tidak memberitahu dia kalau kami semua akan datang. Setelah satu jam kemudian kami pun sampai. Rombongan kami cukup banyak, iring-iringan mobil memenuhi badan jalan bahkan kehadiran kami ke rumah Vira pun sampai-sampai banyak wartawan yang meliputnya. Tapi para bodyguard ayahku langsung membentuk pagar betis. 

Orang-orang ribut dan sebagian mencoba melihat apa yang terjadi. Begitu aku keluar, juga ayahku dari mobil, semua orang langsung heboh. Wartawan langsung mengambil gambar, blitz kamera bersahut-sahutan di sana-sini. Seluruh anggota keluargaku sudah keluar semua dari mobil. Aku memberi aba-aba agar mereka menunggu. 

NARASI VIRA

Aku benci kepada Faiz. Aku benci. Aku lebih benci lagi kepada Pandu. Kenapa juga dia sampai membuat wasiat seperti itu. Aku sudah melepaskan Faiz. Aku sudah ikhlas. Aku sudah rela ia bersama Iskha. Seminggu setelah Pandu tiada aku mengurung diri di kamar. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, ayah dan ibuku berusaha menghiburku. Mereka tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya ingin sendiri. Aku memegangi kalung pemberian Faiz yang aku pakai. Oh, Faiz....celaka, aku masih ingat Faiz. Aku harus melupakannya. Dia sudah jadi suami orang, kenapa aku harus mikirin dia?

Iya, aku dulu mencintainya. Tapi duluuuu. Semenjak dia jalan sama Iskha ya udah, selesai, finish. Aku sudah terima nasib. Buat apa aku harus mikirin dia lagi. Faiz....harusnya kamu sama aku. Harusnya sejak dulu. Nah, kan masih mikirin dia lagi. Sudaaahh...apa yang aku harus lakukan agar aku tak mikirin Faiz lagi??

"Faiz....," gumamku. "Aku bingung antara benci dan cinta. Saat aku membencimu aku justru makin cinta kepadamu. Saat aku mencintaimu aku tak bisa menyakiti Iskha. Faiz...kemarilah, kalau kamu memang cinta kepadaku datanglah kemari."

TOK! TOK! pintu kamarku diketuk. Ibu segera masuk.

"Vira! Vira! Faiz! Faiz ke sini!" kata ibuku.

Tak mungkin. Aku baru saja memikirkan dia. "Ibu pasti bercanda," kataku.

"Beneran! Ayo sini!" kata ibuku.

Entah kenapa aku segera beranjak. Padahal aku benci nama itu kan? Ibuku langsung menarikku sampai ke luar rumah. Di sana aku dapati Faiz. Dan di belakang dia tampak seluruh anggota keluarganya. Semuanya bahkan aku melihat Iskha di sana. Apa-apaan ini??

"Vira?" sapa Faiz.

"Ngapain kamu kemari?" tanyaku dengan sedikit sewot.

"Aku ingin menjemputmu."

"Faiz, aku sudah bilang kepadamu aku tak mau. Kenapa kamu masih saja menuruti wasiat itu? Kalian memang gila. Gila semuanya. Nggak Pandu, nggak kamu, kalian memang keluarga gila! Pergilah!"

Faiz melangkah maju dan kini dia berada persis di depanku. 

"Aku tak akan pergi."

"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini? Aku sudah tidak mencintaimu lagi Faiz, sudah. Hubungan kita sudah berakhir."

"Kau jujur atau bohong?"

"Jujur."

"Kalau begitu kenapa kamu mau menemuiku sekarang?"

"Aku tak bisa Faiz. Tolong, kumohon aku tak mau mengganggu hubunganmu dengan Iskha. Kalian sudah pantas bersama, aku tak mau Faiz. Kumohon," kataku sambil terisak.

"Kamu masih ingat kencan pertama kita?"

Oh tidak, dia mengingatkanku lagi saat itu. Kencan pertama dan sekaligus juga saat first kiss kita.

"Kamu memakai gaun biru, kamu terlihat sangat cantik malam itu. Dan malam itu juga adalah pertama kalinya aku mengenal apa itu cinta. Darimu. Kau cinta pertamaku. Sungguh sulit sekali move on darimu. Aku akui itu. Dan aku tak malu mengakuinya. Aku selalu menghindar ketika membicarakanmu, karena aku tak ingin kamu ada di dalam pikiranku. Tapi tidak semudah itu. Kamu akan tetap selalu ada di hatiku Vira. Melihatmu bersama Mas Pandu, sebenarnya membuatku sakit sangat sakit. Barangkali kamu juga merasakan hal yang sama ketika melihatku bersama Iskha bukan? Maafkan aku. Akulah yang memaksamu untuk bersama Mas Pandu. Kalau kamu mau menyalahkan orang, maka salahkan aku. Aku yang pantas untuk disalahkan. Aku memang pantas dihukum atas kesalahan-kesalahanku. Tapi biarlah aku mengisi hatimu yang selama ini kosong."

Oh...Faiz...aku sangat ingin, ingiiiin sekali. Tapi apakah harus dengan cara seperti ini??

"Vira, sekarang seluruh keluargaku membujukmu. Aku datang membawa mereka semua. LIhatlah!"

Ya Faiz, aku bisa melihat semuanya.

"Aku tahu kamu masih mencintaiku. Kamu masih memakai kalung pemberianku. Apa yang kau rasakan ketika memegangnya?"

Aku menundukkan wajahku. Air mataku berderai.

"Jujurlah Vira, jujurlah! Keluargaku selalu menjunjung tinggi kejujuran!"

"Faiz...," kataku pelan.

"Iya?"

Faiz, aku mencintaimu. Aku jujur mencintaimu. "Aku mencintaimu Faiz. Sejak dulu sampai sekarang. Sampai saat ini. Aku mencoba untuk membencimu aku tak bisa. Aku tak bisa membencimu. Kenapa aku harus hidup seperti ini? Kenapa aku yang harus menerima semua kesedihan ini. Seandainya dulu kau tak memaksaku, aku tak perlu harus menangis seperti ini."

Aku pun menangis. Menangis karena harus berkata jujur. Perasaanku campur aduk semuanya. Aku dipeluk oleh Faiz. Ohh...inilah pelukan yang aku inginkan. Kenapa tidak dari dulu? Dia mencium ubun-ubunku. Oh Tuhan, inilah cintaku. Dia datang kepadaku. Walaupun dengan cara lain tapi dia datang. 

"Faiz, aku bersedia," kataku. 

****

Singkat cerita, akhirnya aku jadi istri keduanya. Aku makin dekat dengan Iskha. Menuju acara pernikahan yang kedua. Sungguh sesuatu yang tak pernah aku duga sebelumnya. Iskha membantuku memilihkan gaun pengantin. Dia juga yang membantuku untuk mengatur pernikahanku ini. Aduh, aku koq sepertinya dimanja gini. Aku nggak enak dengan Iskha. Tapi ia dengan senang hati melakukan itu. Tak ada raut kesedihan di wajahnya. Seolah-olah dia melakukan ini karena memang itu yang dia inginkan. 

Akhirnya hari pernikahan tiba. Aku dan Faiz duduk di pelaminan, menerima para tamu dan undangan. Aku tak pernah datang di pesta pernikahan Faiz dan Iskha. Karena aku tak sanggup melihatnya, tapi....Iskha ada di sana. Aku jadi tak enak ama dia. Mungkin karena inilah aku menganggap dia sebagai adikku. 

Setelah pesta selesai dan seluruh para undangan pulang. Aku digeret oleh Iskha. Ia mau ngomong sesuatu.

"Ada apa dek?" tanyaku.

"Aku mau ngasih tips buat kamu," jawabnya.

"Apa?"

"Hari inikan malam pertamamu. Aku ingin kamu bisa menservis Mas Faiz dengan servis yang luar biasa."

"Apaan sih?"

"Udah, gini mas Faiz itu demennya diginiin....(sensor)," Iskha berbisik kepadaku. Dia menjelaskan sesuatu yang agak vulgar.

"Yang bener dek?"

Ia mengangguk. Aku tak tahu kalau ia bisa bicara sevulgar itu. Aku jadi malu. Kututup mukaku.

"Nggak usah malu, dia sama-sama suami kita sekarang. Toh habis ini juga kamu akan merasakannya," katanya sambil tertawa geli.

Kami jadi sama-sama tertawa. 

"Ngomongin apa sih?" celetuk Faiz dari arah yang tak terduga.

Kami tertawa lepas. Iskha meninggalkanku sambil mengedipkan mata. Aku mengangguk. 

Faiz penasaran, "Apa?"

"Urusan cewek, mau tahu aja," kataku.

****

NARASI FAIZ

Vira sudah jadi istriku sekarang. Trus ngapain? Ngasih nafkah batin dong, emang ngapain lagi coba? 

Tapi jujur aku tak menyangka bisa menjadi suaminya. Dan ini malam pertamaku. Sangat berbeda dengan Iskha. Vira ini entah dari mana dia sudah mempersiapkan madu, susu di meja dekat tempat tidur. Dia memakai kaos dan celana hotpants. Rambutnya ini lebih panjang dari Iskha. Hari sudah malam ....nggak sih baru jam 20.00. Lagian orang-orang di luar sana masih bercanda. Aku sekarang berada di rumah ayahku, rumahku dulu. Dan sekarang berada di kamarku. Setelah menghapus make upnya, Vira malah baca buku. Dasar.

Semenjak SMA sampai sekarang ia tak pernah melupakan hobinya membaca buku. Dia bersandar di ranjang. Kakinya yang jenjang diselonjorkan. Kaki kananya ditekuk sebagai tempat sandaran bukunya. Sehingga aku bisa melihat betapa mulus pahanya itu. Bahkan mungkin terkesannya menggoda. Entah untuk menutupi malu atau apa ia membaca buku malam itu.

Aku duduk di depannya. 

"Belum ngantuk?" tanyaku.

Ia melirikku, lalu tersenyum. Ia lalu kembali mengarahkan matanya ke bukunya.

"Apa maksudnya itu? Kamu lagi malu?" tanyaku.

Ia menggeleng.

"Kalau nggak malu koq gitu?" tanyaku. Eh dia malah menjulurkan lidahnya. 

"Sama suami sendiri koq malu?"

Aku lalu merebut bukunya. Ia terkejut dan mencoba merebutnya. 

"Ih...mas Faiz balikin! Lagi baca nih," katanya.

"Oh, sekarang manggil aku mas?" tanyaku.

"Emang harus manggil apa?" tanyanya.

"Hmm...susah juga ya, kamu lebih tua dariku. Hmm....kalau panggilnya cinta aja gimana?"

Vira pura-pura berfikir, "Gombal"

Aku lalu melihat buku yang ia baca, judul buku itu PANDUAN BERHUBUNGAN INTIM. Aku menaikkan alis. Dia lalu merebutnya bukunya lagi. 

"Apaan sih, dibilang lagi baca koq."

Aku tertawa.

"Koq ketawa?"

"Udahlah, daripada baca buku, sini praktek langsung." 

"Huuu...maunya, ogah ah."

Aku jadi gemas ama Vira. Aku pun menggelitiki pinggangnya. Ia lalu menjerit kegelian. Ia tertawa lepas.

"Sudah, sudah mas. Sudah...aku nggak tahan. Geli...geli..hahahaha," katanya. 

Buku itu terlepas dari tangannya. Dia sudah terlentang di ranjang, aku sudah di atasnya. Jarak pandang kami sangat dekat. Satu, dua, tiga bibirku menyentuh bibirnya. Kami berciuman. Dalam, lidah kami bertemu, saling menghisap. Tiba-tiba ia melepaskan ciuman ini.

"Matiin dong lampunya," bisiknya. 

Aku menurut. Segera aku beranjak mematikan lampu dan mengganti dengan lampu tidur yang ada di dekat ranjang. Vira sudah pasrah. Ia tidur terlentang. Menatapku dengan pandangan sayu. Aku mendekat lagi kepadanya. Kubelai rambutnya. Kukecup lagi bibir tipisnya. Ciuman kami makin lama makin hot. Nafas kami makin memburu. Aku kemudian meraba payudaranya. Ia tak pakai bra. Kurasakan putingnya mulai mengeras.

"Mas...hhhmmmhh..," desahnya.

Aku mencium lehernya. Kuhisap lehernya yang jenjang itu. Aku pun menaikkan kaosnya dengan satu gerakan terlepaslah kaos itu. Aku juga melepaskan kaosku. Dadaku dan dadanya sekarang berhimpitan. Hangat terasa. Ciuman kami makin hot, apalagi sekarang ditambah tanganku sudah bergerilya di dadanya.

Kemudian aku menciumi dadanya, kucupangi dan aku hisap putingnya yang sudah mengeras itu. Vira menggeliat, tubuhnya gemetar ketika aku menggelitiki puting susunya. Aku menghisapnya bergantian kiri dan kanan. Payudaranya terlalu menggemaskan. Karena itulah aku suka meremasnya. Vira memejamkan matanya.

"Ohh...aahh...ahhh...," hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Aku lalu melepaskan celana pendekku. Pusakaku sudah mengeras. Siap untuk digunakan. Aku juga melepaskan hotpants istri keduaku ini. Eh, gila nggak pake CD dia. Bau kewanitaannya langsung menusuk hidungku. Aku melihat ia mencukur rapi tempat kewanitaannya itu. Sungguh pemandangan yang indah. Walaupun remang-remang dengan lampu tidur, tapi aku bisa melihat tembemnya itu liang kehormatannya. 

Baunya semerbak sabun sirih. Apa ia sudah mempersiapkan semuanya untuk malam ini? Aku masih memandangi tempat yang indah itu. Aku kemudian beranikan diri untuk menciumnya.

NARASI VIRA

Mas Faiz ngapain itu? Dia melihat kepunyaanku di bawah sana. Ohhh...aku malu. Aku tak sanggup melihat. Baru kali ini kemaluanku dilihat oleh laki-laki lain. Aku menanti kejutan apa yang akan dia berikan kepadaku. Apa ini? Rasanya basah, kemaluanku basah dan seperti digelitiki. Eh, ini...dia mejilatinya. Menciumnya dan menghisapnya. Massss.....ohhh.

"Ohhh...Mas Faiz...masss...aaahhakkkk," keluhku.

Ini terlalu nikmat. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya lenguhan dan desisan saja yang bisa aku keluarkan lewat mulutku. Sesekali aku menggigit bibirku. Perlakuan Mas Faiz ke liang kewanitaanku luar biasa. Aku terbuai, aku keenakan. Aku membuka lebar pahaku agar ia leluasa. Jilatannya makin cepat dan menggelitik. Lidahnya masuk dan menyapu vaginaku sampai ke klitku. "OOOOOOOHHHHH....Maaasss.....aahhh!"

Aku merasakan ledakan dahsyat di bawah sana. Aku orgasme! Gila! Yang bener ini?? Iya, ini orgasme tidak salah lagi. Dari kemaluanku aku seperti ingin pipis. Dan kurasakan ada yang keluar, setelah itu aku lemas. Aku mengatur nafasku. Duh....enak banget. Seperti inikah rasanya bercinta?? Capek rasanya. Kepengen tidur. Tunggu dulu. Aku belum memberikan Mas Faiz kepuasan. Aku kemudian duduk. Kudapati ia sudah mencopot celananya. Eh...dia telanjang bulat di depanku.

Aku malu....untung saja ia menuruti kata-kataku untuk mematikan lampu. Kalau tidak ia akan melihat betapa merahnya wajahku sekarang. Kemaluannya mengacung tepat di depan wajahku. Ia ingin "itu" ya? Aku mencoba mengamalkan apa yang Iskha bilang tadi. Kelemahan Mas Faiz dan bikin ia terbang adalah kalau lidahku menyapu bagian kepala penisnya sambil aku kulum. Baiklah. Aku akan mencobanya. 

Aku baru pertama kali ini memegang batang seorang laki-laki. Aku genggam batang itu. Makin lama makin mengeras. Kukocok lembut sebagaimana yang aku baca tadi di buku PANDUAN BERHUBUNGAN INTIM. Lambat laun aku pun memberanikan diri mencium penisnya. Begininya baunya laki-laki. Aku pun baru tahu. Bibirku sudah menggeranyangi kulit batangnya. Lidahku mulai beraksi. Terkadang terkena rambut kemaluannya. Aku tak peduli. Aku sudah memasrahkan tubuhku kepadanya. Aku lalu memasukkan kepala penis itu ke mulutku. 

"Ohhh....enak banget sayang," katanya.

Aku mengisapnya, sambil kupraktekkan apa yang diberitahukan Iskha kepadaku. Tiba-tiba Mas Faiz memegang kepalaku dengan kedua tangannya.

"Aarghhh....enak, terus...aahhhhhh....!" katanya. 

Benar sekali. Ia mabuk kepayang sekarang. Penisnya aku putari-putari dengan lidahku sambil aku hisap. Aku juga masih mengocok miliknya sambil kuremas-remas buah dzakarnya. Kepalaku juga ikut maju mundur menyesuaikan irama oralku, Ini adalah pengalaman pertamu mengoral cowok. Aku akan serahkan apapun demi dia. Orang yang aku cintai. Aku tahu sekarang Mas Faiz pasti sudah melayang. Tak berapa lama kemudian dia lalu mendorongku. 

"Uhhgghh...," katanya. "Kamu belajar dari siapa cara seperti itu?"

"Enak?" tanyaku. 

"Iya, enak," jawabnya. 

"Hihihi, rahasia," kataku.

Mas Faiz lalu menindihku lagi. Posisinya sekarang sudah seperti akan memerawaniku. Bagaimana rasanya diperawani ya? Aku agak takut. Aku takut Mas Faiz. Takut banget. Aku masih memejamkan mataku, takut melihat wajahnya. 

"Sayang, bukalah matamu!" bisik Mas Faiz pelan.

Aku perlahan membuka mataku. Ya ampuuuun...wajahnya sedekat ini. Aku bisa merasakan sesuatu benda yang lunak sudah menyentuh memekku. Jantungku berdebar-debar sekarang. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Mas Faiz suamiku. Apa yang akan kamu lakukan? Tangannya menyentuh rambutku, mengusap-usap pipiku. 

"Kamu sudah siap?" tanyanya lembut.

Aku bingung mau jawab gimana. Aku terlalu lugu untuk hal seperti ini. Bagaimana dengan Iskha? Apakah ia juga merasakan hal yang sama seperti ini? Di hadapanku sekarang ada orang yang aku cintai. Orang yang aku cintai sejak SMA. Sejak dia mencuri first kissku. Sejak dia mencuri hatiku. Ohh...Faiz...Dia menciumku lagi. Kami frenchkiss lagi. Lagi dan lagi. Tapi ia tak memasukkan pusakanya ke liang senggamaku. Kenapa? Kenapa Mas Faiz?

Dia menciumi leherku sekarang, lalu dia menggigit telingaku. Oouww..aku makin banjir, memekku berkedut-kedut, minta dimasuki. Gatel banget. Aku melingkarkan tanganku di lehernya sekarang.

"Lakukan mas, aku siap!" kataku.

Dan......aaaahhhkk. Pusakanya didorong masuk. Belum terasa sakit. Tapi lebih ke nikmat. Apalagi di bawah sana aku banjir banget. Aku baru merasakan pedih ketika ia mendorong lebih kuat lagi. Ada sesuatu di dalam sana yang tak mau dibuka. 

"Tenang sayangku, rileks!" katanya. 

Iya, aku terlalu tegang. Aku harus rileks...."AAAAHHH!" aku menjerit. Ketika aku berusaha rileks tiba-tiba Mas Faiz mendorong hingga masuk semuanya. Aku sedikit kaget. Sekarang aku baru merasa perih, pedih...Memekku terus-menerus meremas-remas. Ohh...sakitnya. Seperti inikah rasanya? Mas Faiz menciumku lagi, dan kini memelukku. Ohh...aku emang ingin dipeluk.

Dadanya menghimpitku sekarang. Aku bisa merasakan detak jantung cintaku. Dadanya sedikit berbulu, ada sensasi tersendiri ketika dadanya menggesek dadaku. Sensasi geli, menggelitik. Sukar diungkapkan. Tubuhku sekarang sudah jadi miliknya. Ahhh...dia mulai menaik turunkan pantatnya. Batangnya menggeseki dinding kemaluanku sekarang. Nikmat sekali. Rasa sakitku berangsur-angsur hilang. Yang ada hanya kenikmatan. Semakin Mas Faiz memajumundurkan penisnya, semakin aku keenakan. Melayang aku rasanya. Aku memejamkan mataku. Pasrah. Oh, Mas Faiz lakukan apa yang Mas Faiz suka. Aku milikmu sekarang. Inilah yang aku inginkan sejak dulu. Bersamamu merengkuh cinta. Ayo ayah dari anak-anakku. Isi rahimku dengan spermamu.

"Mas Faiz...sirami rahimku dengan benihmu mas. Aku nggak mau kalah ama Iskha. Aku ingin memberikan Mas kebahagiaan juga. Ayo!" kataku.

Dan Mas Faiz makin cepat menggoyangnya. Aku hanya bisa menggeliat. Setiap aku menggoyangkan pinggulku Mas Faiz melenguh. Ia juga terasa nikmat. Kami berdua berusaha menuju puncak. Inikah rasanya bercinta? Tubuhku sudah menyatu dengannya. Seutuhnya menyatu. Ia tambahkan kenikmatan-kenikmatan ke tubuhku lagi, dihisapnya puting susuku. Ohh...sudah..aku tak kuat lagi. Desakan demi desakan di bawah sana sudah memancing orgasmeku untuk yang kedua kalinya. Vaginaku berkedut-kedut, cairannya makin banyak, gesekan demi gesekan itu bagai piston yang memompa nafsuku untuk sampai ke puncaknya. 

"Maass....aku....mau nyampeeee....hheeeghhh....!" 

"Ahhh...sayangku, cintaku...ahhh...aku juga...aahhhhhhhhhhhhhh!"

Kami hampir keluar bersamaan, sepertinya aku duluan yang keluar. Sebab aku mengapit pinggang Mas Faiz dengan kuat dan menyemprotkan cairan yang banyak, baru kemudian Mas Faiz keluar. Orgasme terdahsyat dalam hidupku. Baru kali ini aku merasakan seluruh tulang-tulangku serasa remuk semua. Otot-otot tubuhku menegang, pantatku bergetar hebat. Kami berciuman lamaaaa sekali, Kedua kemaluan kami seakan tak ingin berpisah, terus menempel. Aku bisa rasakan pejunya Mas Faiz menyembur hebat di dalam rahimku. Mungkin banyak, Aku sendiri tak tahu. Yang jelas memekku sekarang terasa sangat basah dan becek. Mas Faiz menindihku. Nafasnya terengah-engah. 

Tiba-tiba penisnya menyusut sendiri. Ia lalu berguling ke sampingku. Kakiku masih terbuka. Aku bisa rasakan sesuatu meleleh di sana. Mas Faiz memelukku. Ohh...aku memang suka dipeluk olehnya. Rasanya nyaman sekali setelah bercinta aku dipeluk. Ia menciumku berkali-kali. Makasih Mas Faiz. Ini pengalaman yang tidak aku lupakan. 

Dan....ladies and gentlemen. Aku sudah tidak perawan lagi. Selanjutnya? Setelah itu kami mengulanginya lagi. Terlalu panjang kalau diceritakan. Hihihihi Intinya Mas Faiz sangaaaat lembut. Aku dimanja banget malam itu. Sampai bangun kesiangan. Dan eh...diulang lagi paginya....Ohhh...suamiku. Lakukan aja deh, aku pasrah.

NARASI FAIZ

Vira mendesah lembut. Dia menungging saat aku menyodoknya dari belakang. Kami baru saja bangun tidur. Dan langsung saja aku tergoda dan melakukannya lagi. Aku pegang kedua payudaranya, kuremas-remas dan pinggulku bergoyang. 

"Ohh...Mas Faizz...hhhmmmhh...cepetan, mau nyampe," katanya.

"Iya sayangku, Vira...aahhkkk...!" kataku.

Kemaluanku terus mengobok-obok liang senggamanya maju mundur dan lagi-lagi maniku menyembur di rahimnya. Aku tak peduli lagi mau ia hamil atau nggak. Hamil ya hamil aja. Toh dia udah jadi istriku.

Aku dan Vira akhirnya bersama, juga Iskha. Dua orang yang sama-sama aku cintai ini sekarang jadi istriku. Lengkap sudah semuanya. Tentunya kedua sifat istriku ini beda semuanya. Iskha lebih bawel daripada Vira. Kalau ada bajuku yang nggak rapi pasti bawel, kalau ada yang berantakan pasti bawel. Dia benar-benar menepati janjinya, akan berikan apapun yang aku inginkan kalau sudah nikah. Sedangkan Vira, aku tak menyangka kalau dia itu lugu banget, polos. 

Ia mengaku kepadaku tak pernah tahu begituan. ML hanya ia ketahui dari buku, ia tak begitu tahu cara menstimulus, bagaimana teorinya, ia sama sekali tak tahu. Bahkan lihat barang lelaki saja ia baru tahu. Satu-satunya ilmu yang diberikan adalah dari Iskha. Iskha tahu kalau aku suka banget ama blowjobnya, entah diapain sih itu kepala otongku sampai rasanya enak banget. Nyatanya Iskha berbagi pengalamannya kepada Vira. 

Jadi aku sangat beruntung mendapatkan Vira, ibaratnya dia adalah hutan yang masih hijau, benar-benar belum tersentuh. Bahkan ia sendiri bilang satu-satunya lelaki yang pernah menciumnya adalah aku, memang ia pernah mencium Mas Pandu, namun itu karena ia memberikan hadiah itu kepada Mas Pandu. Dialah yang memberikannya bukan dia yang menerimanya. Dan dia jujur.

Semenjak menikah dengan Vira, aku juga tahu kalau dia wanita yang paling lembut. Sementara ini Vira tinggal di rumah orang tuanya. Yah, mau gimana lagi blom punya duit buat beli rumah lagi. Tapi aku yakin pasti bisa beli setahun lagi. Nabung dong. Udah punya dua istri pengeluaran juga dobel. Apalagi kalau sampai keduanya sama-sama hamil. Tambah lagi kan? Untungnya perusahaanku terus berkembang beberapa bulan ini. Sip pokoknya. 

Aku juga baru tahu kalau Iskha itu nggak suka makanan berminyak dan pedes. Ya maklum sih penyanyi. Beda ama Vira dia suka banget. Dan saudara-saudara kedua istriku nggak bisa masak Karena aku dulu pernah kerja di restoran ketika kuliah di Havard, jadinya paling tidak aku ngerti dengan ilmu memasak. Aku ngajari mereka untuk memasak. Praktis keduanya hanya masak yang instan macam sandwich, pancake dan mie instan. Tapi lambat laun aku ngajari mereka masak masakan Indonesia, entah itu rendang, sayur asem, sayur bening dan lain-lain. Kalau Iskha nggak bisa masak wajarlah, dia tomboy dulunya. Nggak pernah nyentuh dapur. Tapi aku salut ama usahanya belajar. Yang paling malu itu Vira.

Pernah dia suatu ketika masak sampai gosong semua. Goreng tempe saja wajannya sampai lengket. Dia pun akhirnya pasrah. Bilang ke aku, "Mas, aku nggak bisa masak." Sambil matanya berkaca-kaca gitu. Cute banget mirip kelinci yang mengiba. Duh....Ya sudah, habis itu aku ajarin masak. 

Vira itu istriku yang paling mengirit. Beda dengan Iskha. Kalau Iskha sering belanja, tapi setelah belanja ia sering tanya ke aku, "Aku tadi beli ini buat apa ya?" Dia pernah beli selusin gelas plastik tanpa tahu kegunaannya. Kepengen aja gitu. -_-

Kalau Vira nggak. Uang belanja yang aku berikan kadang ia tabung. Dan yang aku suka adalah keduanya tak pernah menuntut aku. Mereka tahu kemampuanku. Mereka tahu kelemahanku. Perjuangan cinta Iskha selama ini, perjuangan cinta Vira selama ini telah terbayarkan. Iskha yang setia kepadaku, Vira yang sangat mencintaiku. Mereka akan menjadi dua bidadariku selamanya.
Maafkan Aku Faiz

NARASI HANI

Lupakanlah kejadian di hotel itu. Itu semua kecelakaan, pikirku. Bahkan dengan itu aku dan ayahku makin dekat sekarang. Semua keluarganya terkejut tentu saja ketika ayah mengatakan dengan jujur siapa aku ini. Ya, aku adalah putra dari Doni Hendrajaya. Pemimpin Hendrajaya Group. Awalnya aku ragu akan diterima baik. Tapi ternyata dugaanku salah, mereka sangat baik menerimaku. 

Aku tidak bisa menerima perlakuan ayah yang terlalu baik. Aku cukup minta diakui aja sebagai putrinya dan ia pun mengakuinya. Tak berapa lama setelah Mas Faiz menikah, aku pun menikah dengan seorang anak konglomerat. Namanya Helmi Joyokusumo, anak pemilik Joyokusumo Group, rekan bisnis ayah. 

Pacaran kami tergolong cukup singkat. Kami bertemu pada sebuah pesta. Aku tentu saja ada di sana karena aku adalah sekretarisnya. Aku sebetulnya tak menyandang nama Hendrajaya pada namaku. Dan karena itulah kami jadi akrab. Helmi sangat baik kepadaku. Pertemuan demi pertemuan pun berlanjut ke yang lebih dekat lagi. Yang aku sukai dari Helmi adalah dia menerimaku apa adanya. Aku berterus terang kalau aku adalah anak Pak Hendrajaya dan aku sudah tidak perawan lagi. Tapi ia tak mempermasalahkan. Begitu tahu aku anak dari Tuan Hendrajaya, tentu saja ia kaget. 

Tidak lama kemudian dia melamarku dan menikah. Hmm...menurutku sih cowok yang ideal itu cuma Mas Faiz. Ideal tentunya, orangnya romantis, masih ingat bagaimana sikap dia kepada Mbak Iskha. Aku tak akan lupa itu semua. Walaupun Helmi tidak seperti Mas Faiz, tapi aku cukup bahagia karena dia menyempurnakan hidupku. 

Berita menghebohkan itu pun datang. Ayah terkena serangan jantung. Akulah orang yang pertama kali berada di rumah sakit. Dokter sudah berusaha sekuat tenaga menolongnya, tapi beliau tak bisa bertahan. Kematiannya adalah jam 14.15 pada hari Rabu. Saat itu beliau dikatakan sedang main golf sampai tiba-tiba ambruk. Aku sudah menasehati untuk makan teratur dan menjaga pola hidup sehat. Tapi sepertinya pekerjaannya lebih penting dari itu semua. 

Orang kedua yang datang ke rumah sakit adalah Mas Faiz dan keluarganya. Lalu disusul Bunda Aula dan anak-anaknya. Mereka datang bersamaan sepertinya. Keluarga Hendrajaya berduka pada hari itu. Tapi aku tak melihat air mata setetes pun dari Mas Faiz. Padahal sebenarnya nggak begitu. Aku tahu bagaimana hubungan mereka. Mas Faiz masih menghormati ayahnya. Dia pasti juga kehilangan tapi dia tak ingin menunjukkannya kepada siapapun.

NARASI FAIZ

Sepuluh tahun kemudian semenjak aku menikah dengan Vira. Ayahku meninggal. Doni Hendrajaya meninggal dan di makamkan di sebelah makam Mas Pandu. Seluruh keluarga kami berkabung. Beliau meninggalkan empat orang istri dan sepuluh orang anak. Koq sepuluh? Kami ketambahan satu yaitu Hani. Hani tak kusangka ternyata ia adalah saudara kandungku beda ibu. Ayah menyembunyikan nama ibunya. Tapi memang itulah yang terjadi. Selama ini Hani memang mencari ayahku. Perjumpaan dia dengan ayahku cukup singkat tapi itu sudah menyenangkan dirinya. Dan dia sekarang sudah menikah dengan lelaki yang dicintainya, juga anak konglomerat yang merupakan rekanan bisnis ayah.

Saat pemakaman ayah. Kak Putri ada di sana. Dia membawa seorang anak laki-laki berusia empat belas tahun. Wajahnya sangat mirip denganku. Apakah ia anak hasil dari hubunganku dengan dirinya? Bahkan namanya juga sama seperti aku, Faiz. Ketika bertemu lagi, ia tak berani menatapku, melirikku saja tak berani. Ia menyembunyikan wajahnya dengan kerudungnya, menyembunyikan kesedihannya dan terharunya dengan isak tangis. 

Aku bisa melihat Bunda Vidia, Bunda Nur, Bunda Laura saling merangkul. Mereka tentu saja sedih suami mereka meninggal. Aku masih punya dosa sebenarnya kepada Bunda Vidia dan Bunda Nur. Tapi mereka sudah memaafkanku. Sekalipun begitu aku tak berani lagi menatap wajah mereka. Walaupun mereka bilang sudah memaafkanku dan tahu bahwa itu bukan karena kesengajaan murni akibat pengaruh obat perangsang tetap saja aku sepertinya tak bisa dimaafkan. Aku sampai sekarang tidak pernah menemui mereka di rumah. Ketika bertemu pada acara keluarga pun aku tak berani menatap mereka lagi. 

Tapi mungkin setelah ini aku akan lebih serig menemui mereka. Apalagi mereka sudah tua. Tak ada lagi yang bisa menemani. Kegilaan di masa muda sudah berakhir. Generasi sudah berganti. Aku tak mau masa lalu selalu membebaniku. Apalagi Iskha adalah istriku yang luar biasa. Bisa menyatukan keluargaku. Aku sudah ceritakan kepada dia dan Vira apa yang terjadi dengan keluarga ini. Ia mulai mengerti dan hebatnya semua istriku bisa mengerti keadaan kami. Iskha juga sudah memaafkan Kak Putri, tapi aku tidak. Aku masih belum bisa memaafkannya sepertinya. 

Tentang anaknya Kak Putri, selama ini ayah dan bunda tak pernah cerita. Aku baru menyadari bahwa Faiz junior yang ada di pemakaman itu adalah anakku ketika bunda menyinggungnya. 

"Dia adalah anakmu dengan Putri," kata bunda.

"Trus apa hubungannya denganku? Aku tetap tak akan memaafkan Kak Putri," kataku.

"Faiz, jangan keras seperti itu. Itu sudah masa lalu. Kak Putri menyesal seumur hidupnya," kata bunda.

"Tapi dia tetap tak bisa dimaafkan."

"Sudahlah Faiz, dia sekarang hidup sendirian dengan Faiz keci Selama ini ia tinggal dengan ayahnya Putri. Tapi tak lama karena setelah itu meninggal. Putri jadi buruh petani teh selama ini. Dia hidupnya sengsara. Ia bahkan menolak semua uang ayahmu. Dia sudah berubah sekarang. Ia sangat sayang kepada Faiz kecil, kamu mengertilah sekarang. Maafkanlah dia!"

"Aku tetap tak akan memaafkannya. Biarpun dia mati aku tak akan memaafkannya."

Iskha mendengarkan percakapanku dengan bunda. 

"Nda,...?" kata istriku.

Ia memelukku. Wajahnya yang cantik itu tersenyum kepadaku. "Kasihan Kak Putri Nda. Dia sudah kehilangan ayahnya, ia sudah kehilangan ayahmu. Ia selama ini tak berani ke sini juga karena dirimu. Dia sudah menyesal seumur hidupnya. Aku sudah memaafkan dia Nda, Kanda juga harus begitu."

"Kenapa? Dia telah berbuat jahat, dosanya tak bisa dimaafkan!"

"Nda, setiap orang berbuat jahat. Dan setiap manusia yang masih hidup bisa dimaafkan. Kandaku, demi aku. Maafkanlah Kak Putri. Kanda mau Faiz kecil itu hidup sendirian? Kanda sudah banyak memberikan kehidupan untuk kita, berikanlah kehidupan lagi, satu kehidupan saja kepada orang yang Kanda anggap punya dosa. Suamiku, maafkan dia ya?"

Wajah Iskha, matanya oh tidak...aku tak bisa menolaknya. Dia terlalu cute, terlalu cantik. Aku pasti takluk dengan tatapan matanya itu. Hatiku pun meleleh. Aku menarik nafas dalam-dalam.

"Aku akan pikirkan," kataku singkat. Setelah itu aku meninggalkan mereka. Iskha dan Bunda tampaknya menyerah. Mereka hanya mendesah. Sepertinya mereka sudah putus asa atas pendirianku.

Setelah ayah dimakamkan, beberapa hari kemudian kami berkumpul di rumah ayah. Seorang pengacara kemudian membacakan sebuah keputusan pengadilan tentang warisan kami. 

"Pak Hendrajaya mewariskan seluruh hartanya yang dibagi secara adil sesuai dengan aturan agama yang dianut. Untuk bagian anak laki-laki dua kali anak perempuan, bagian istri adalah seperdelapan. Kemudian seluruh aset perusahaan dan kepemimpinan perusahaan diserahkan kepada pewaris yang telah ditunjuk, Faiz Hendrajaya. Demikian isi wasiat dari Doni Hendrajaya. Keputusan ini telah ditetapkan oleh pengadilan dan mengadung kekuatan hukum."

Warisan ayah sangat besar. Aku yakin istri dan anak-anaknya akan mendapatkan bagian yang tidak sedikit. Aku sama sekali tak mengeluarkan air mataku saat itu. Bagiku ayah sudah memberikan pelajaran bahwa kita kan menjadi kuat dengan segala ujian yang diberikan kepada kita. 

Setelah pengumuman itu dan pengacara pergi, kak Putri menghampiriku. Aku tak menoleh sedikit pun kepadanya. 

"Faiz, kamu masih tak memaafkanku?" tanyanya sambil terisak. 

Aku hanya berdiri tak bergerak. Melihatnya saja tidak. Aku benar-benar tak memaafkannya sampai sekarang. Aku menoleh ke arah Iskha dan Vira. Mereka hanya melihatku dari jauh. Iskha menganggukan kepalanya, seolah-olah dia berkata, "Maafkan kak Putri kanda."

"Baiklah kalau kamu tidak memaafkan aku. Tapi paling tidak lihatlah Faiz kecilku. Itu adalah anak kita. Aku membesarkannya seorang diri. Semenjak kamu marah besar waktu itu, aku pergi dari kota ini. Aku menyendiri. Membesarkannya sendiri. Lihatlah, ia segagah dirimu, dia setampan dirimu. Aku sangat menyayanginya, aku ingin dia seperti dirimu. Dia juga anak yang berbakti. Dia sudah besar sekarang. Seandainya aku tak ada hari esok lagi, aku memohon kepadamu, tolong jagalah dia. Anggaplah dia bagian dari keluargamu. Aku akan terima nasibku mendapatkan penebusan dosa atas apa yang telah aku lakukan," sambil masih terisak Kak Putri menggeret Faiz kecil mendekat kepadaku.

"Aku selalu menjaganya siang malam. Lihatlah. Dia seperti dirimu. Aku tak bisa melupakanmu Faiz, aku tak bisa. Semakin aku mengasuhnya, melihat ia tumbuh dari hari ke hari, aku malah merasa makin berdosa. Aku malah makin bersalah kepadamu. Karena aku melihatmu di dalam dirinya. Tahukah kamu kata yang pertama kali diucapkannya ketika dia masih bayi? Ayah....iya, dia mengucapkan ayah padahal ia tak pernah melihat ayahnya. 

"Faiz, siksalah aku sepuasmu. Jangan anakku, jangan dia. Dia tidak bersalah. Kumohon, sayangilah dia. Kalau kamu ingin aku pergi, aku akan pergi. Iya, aku akan pergi. Ini memang sudah menjadi hukumanku. Ayah juga menghukumku. Aku memang pantas mendapatkannya. Lima belas tahun aku pergi dari keluarga ini Faiz. Selama itu pula aku mengasuh anak kita. Lihatlah dia! Lihat! Kalian seperti pinang dibelah dua. Mirip bukan? Nama kalian juga sama."

Anak lelaki itu melihat diriku. Aku menoleh ke arahnya. Benar-benar seperti aku. Mirip sekali. Aku seperti melihat diriku sendiri di dalam cermin. Apa yang telah aku lakukan? Faiz kecil. Dia tidak bersalah. Aku tak perlu menghukum dia juga. Kenapa ini semua harus terjadi?

"Ayo nak, cium tangan ayahmu!" perintah Kak Putri.

Aku mengulurkan tanganku. Faiz kecil mencium tanganku. Dia tersenyum kepadaku. "Aku bangga kepada ayah. Ibu selalu menceritakan tentang ayah. Ayah orang hebat. Aku selalu ditemani oleh foto ayah ketika tidur. Ibu selalu menunjukkan foto ayah, bahwa aku harus seperti ayah, harus rajin belajar. Tapi kata ibu, kalau aku berjumpa dengan ayah, aku tak boleh memarahi ayah. Sebab ibulah yang selama ini salah. Ibu sudah menyakiti ayah. Maka dari itulah ibu pergi. Ibu bilang sebelum ke sini, aku tak boleh mengecewakan ayahku. Aku harus berpenampilan sama seperti ayah. Ini adalah perjumpaan dengan ayah secara langsung untuk pertama kali. 

"Aku selalu melihat berita tentang ayah. Aku bahkan sejak dulu menggunting koran mengkliping berita-berita tentang ayah, memajang foto-foto ayah, seluruh kamarku berisi foto ayah. Aku sangat mengidolakan ayah sejak dulu. Ayah telah memberikanku inspirasi, telah memberikanku semangat. Aku selalu membanggakan ayah di antara teman-temanku. Aku tak malu mengatakan bahwa aku adalah putra dari Faiz Hendrajaya, sekalipun aku belum pernah bertemu dengan dirinya sejak aku masih kecil. Bagiku itu tak masalah, mungkin ayah memang sibuk, mungkin ayah memang tak bisa berjumpa denganku, karena ibu tak pernah memberitahu di mana ibu tinggal. 

"Aku tak pernah ayah gendong ketika kecil, aku juga bahkan tak pernah ayah suapi ketika kecil. Bahkan aku belum pernah memeluk ayahku sejak dari kecil. Boleh aku memeluk ayah sekarang? Kakekku selalu menemaniku, dia berkata bahwa aku harus jadi anak berbakti kepada kedua orang tuaku, dan kalau nanti aku ketemu ayah, kakek berpesan agar ayah mau memaafkan ibu. Aku memohon kepada ayah, maafkanlah ibu. Aku tahu ayah mungkin tak mencintai ibu. Tapi, setidaknya ampunilah ibu, maafkanlah ibu. Kalau toh ayah tak menerimaku, setidaknya maafkanlah ibu. Karena selama ini hanya ibu yang aku punya."

Mataku berkaca-kaca tak mampu dibendung lagi. Air mataku meleleh. Aku terharu....Aku melihat kak Putri. Dia masih terisak. Iya, Faiz kecil tidak salah. Ia tak harus mendapatkan hukuman ini. Dia sama sekali tak berdosa. Ya tuhan, aku telah salah. Maafkan aku Faiz kecilku. Kemarilah nak, peluklah ayahmu.

"Sini Faiz, sini!" kataku. Aku seperti memanggil diriku sendiri. Faiz kecil segera memelukku dengan erat. Tangisnya pun pecah. 

Kak Putri mulai bisa tersenyum, tapi masih sambil terisak. Aku melihat penyesalan mendalam di wajahnya. Kedua istriku yang melihat ini semua dari jauh juga tak bisa menahan haru. Mereka tahu semua yang terjadi dengan Kak Putri. Aku yang cerita. Memang itu hal yang pahit. Hal yang seharusnya tidak terjadi. Ini adalah pengampunan, ini adalah pemaafan. 

"Kak Putri, sini!" kataku.

Kak Putri masih terisak ia menggeleng.

"Sini, aku memaafkan kakak, ke sinilah. Ke sini!" ajakku. 

"Sungguh?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Iya, aku memaafkan kakak. Sudahlah, ayo sini!"

"Faiz...," Kak Putri langsung merangkulku dan Faiz kecil. Ini adalah momen yang paling mengharukan. Tangis Kami pecah bersama. Aku akhirnya bisa memaafkan Kak Putri. Walaupun dia dulu merampas nyawaku, tapi sekarang dia memberikan aku nyawa yang baru. Faiz kecilku. Dosa-dosanya aku ampuni, aku maafkan. 

Kedua istriku pun berhamburan memeluk kami. Hari ini aku menggantikan ayahku menguasai perusahaannya, seluruh usahanya yang ratusan itu. Dan bahkan aku harus mengatur juga perusahaanku sendiri yang memang sudah besar sekarang. Entah nanti aku mengaturnya bagaimana. 

Aku tidak seperti ayahku tentu saja. Aku berbeda. Aku akan tetap menganggap Kak Putri sebagai kakakku. Aku tak menikahinya dan ia harus menerima bahwa tak mungkin ia mencintaiku. 

NARASI PUTRI

Anakku sudah besar sekarang. Ini sudah masuk ke usia 17 tahun. Ketika Faiz dan Faiz kecil berjalan bersama, aku seperti melihat pinang dibelah dua. Aku sudah mulai menerima nasibku. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Tapi aku tak ingin menikah lagi. Prinsipku tetap menganggap semua laki-laki di dunia ini brengsek kecuali Faiz. Ayah kandungku sendiri meninggalkan ibuku, ayah tiriku sendiri kelakuannya juga bejat. Tapi Faiz tidak.

Aku sangat iri kepada kedua istrinya. Faiz mendapatkan mereka semua, para wanita yang dicintainya. Faiz telah memaafkan aku. Aku tinggal lagi bersama bunda. Beliau sekarang sudah tua. Aku mengisi hari-hari terakhirnya sebelum beliau menyusul ayah. Sebab siapa lagi yang bisa mengasuh beliau? Icha sudah menikah, Rendi sudah menikah. Aku tinggal sendirian di rumah bersama bunda. Setelah bunda meninggal, Faizlah yang mengubur bunda ke liang lahat yang berada di samping makam ayah. Mereka berdua memang tak terpisahkan. 

Di makam itu, aku melihat tiga orang bersanding. Ayah, bunda dan Pandu. Tak ada yang abadi di dunia ini. Sebagaimana juga kerasnya hati Faiz yang tidak memaafkanku, toh akhirnya ia juga luluh setelah melihat Faiz kecil. Iskha telah memaafkan aku terhadap apa yang aku lakukan dulu. Pernikahannya dengan Faiz dikaruniai 4 orang anak. Vira dikaruniai 3 orang anak. Mereka sudah kuanggap sebagai anak-anakku sendiri. Karena di rumah sepi tak ada siapapun, kadang mereka mampir ke rumah. 

Faiz memimpin perusahaan dengan tangan dinginnya. Perusahaannya makin besar dan menguasai industri Teknologi Mobile se-Asia. Perusahaan ayah kemudian sebagian diberikan kepada saudara-saudaranya. Faiz bukan orang yang royal. Sekali pun dia sebagai orang yang mampu memimpin banyak perusahaan, tapi ia tetap bersikap sederhana. Ia tidak malu beli makan di warung pinggir jalan. Tentu saja hal itu selalu menjadi heboh dan wartawan-wartawan yang lebay selalu memberitakannya. 

Aku sudah cukup senang dengan kehidupanku ini. Aku hanya ingin menghabiskan usiaku dengan tenang dan damai. Sebab aku sudah mendapatkan pengampunan Faiz. Kebahagiaanku bukan berarti aku harus bersama Faiz. Aku sadar aku tak bisa memaksanya untuk mencintaiku. Kebahagiaanku adalah pengampunan dan pemaafan darinya. Itu sudah cukup bagiku. Sudah cukup. 

End of Story


ليست هناك تعليقات for "𝐀𝐧𝐚𝐤 𝐁𝐚𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐁𝐚𝐠.𝟑𝟓 [ 𝐓𝐀𝐌𝐀𝐓]"