𝐀𝐧𝐚𝐤 𝐁𝐚𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐁𝐚𝐠.𝟑𝟑 [𝐏𝐚𝐬𝐫𝐚𝐡]
Aku dalam perjalanan pulang. Hari sudah gelap. Perbuatan Kak Putri ini pasti memberikaku obat perangsang. Hingga aku tak bisa mengendalikan diriku. Keluarga yang sudah rusak. Aku pun tambah rusak. Seharusnya hal itu tak boleh aku lakukan. Terdengar panggilan ponselku saat itu aku menepi sebentar ke SPBU karena bensinku sudah mau habis. Kuangkat.
"Halo Rik, ada apa?" tanyaku.
"Bro, kabar baik," katanya.
"Apa?"
"Iskha, ketemu," katanya.
Aku yang tadinya lesu, suntuk, bete, emosi sekarang tiba-tiba semuanya hilang. Aku sangat senang sekali, "Oh ya? Trus?"
"Aku akan BBM alamatnya, hanya saja ada satu hal yang sebenarnya aku tak mau mengatakannya kepadamu. Kuharap kamu jangan shock," kata Erik.
"Ada apa?"
"Dia diusir ke luar kota oleh kakakmu. Kakakmu mengancam akan menyakiti keluarganya kalau dia masih ada di kota ini. Dia juga yang memindahkan sekolahnya ke sana. Semua orang dibungkam, termasuk pihak sekolah. Bro, sepertinya kamu punya musuh dalam selimut."
Bagai tersambar geledek, aku tak kuasa lagi kali ini. Kemarahanku sudah pada puncaknya.
"Terima kasih Rik. Terima kasih banyak. Aku memang harus menyelesaikan ini semua. Kamu temanku yang paling baik," kataku.
"Sama-sama. Kuharap kau bisa bersama lagi dengan Iskha," katanya.
"Tentu saja," kataku.
Setelah mengisi bensin dengan pertamax tentunya, aku pun kembali ke rumah. Kemarahanku benar-benar meledak. Aku benar-benar tak menyangka kenapa Kak Putri melakukannya? Kenapa? Kakakku yang aku hormati, yang aku sayangi malah melakukannya. Persetan dengan keluarga ini. Persetan dengan kalian semua.
Aku sudah sampai di rumahku. Satpam yang menjaga gerbang buru-buru membuka pagar. Aku sedikit ngebut dan parkir sembarangan di sana, langsung aku menyerbu masuk. Di dalam rumah, aku melihat Pandu sedang di atas kursi rodanya sedang membaca buku. Dia ada tidak sendiri di ruang keluarga. Ada Bunda, ada Kak Putri, juga ada Bunda Laura ternyata sama si Juni kecil.
"Faiz, dari mana saja kamu?" tanya Bunda.
"Dengarkan baik-baik aku tak akan mengulanginya lagi," kataku.
Semuanya menoleh kepadaku.
"Mas Pandu, bawa Juni ke kamar dan usahakan jangan sampai mendengar apa yang aku ucapkan," kataku.
"Kenapa Iz?" tanyanya.
"LAKUKAN CEPAT!" bentakku.
Seketika itu ruangan itu jadi tegang. Juni kecil tampak ketakutan kepadaku. Pandu hanya bisa menurutiku. Dia tahu aku kalau marah tak ada yang bisa menghentikannya.
"Dia marah sekarang. Hati-hati kamu Put!" kata Pandu kepada Kak Putri.
Wajah Kak PUtri yang tadi cerah menyambutku datang sekarang berubah. Ia ketakutan. Juni dan Pandu masuk ke kamar. Setelah aku yakin mereka sudah masuk kamar dan Juni kecil tak akan mengintip keluar aku baru meledak.
"Aku benci kepada kalian," kataku.
"Ada apa FAiz?"
"Tanya kepada kak Putri apa yang dia katakan kepadaku tadi pagi!" kataku.
"Ada apa Put?" tanya bunda.
"I...itu...," dia tak melanjutkan.
"Aku tahu semuanya tentang keluarga ini. Aku tahu semuanya. Siapa istri-istri ayah itu. Kau Bunda Laura aku tahu hubunganmu dengan ayah. Aku tahu siapa Bunda Vidia, aku juga tahu siapa Bunda Nur. Aku tahu kenapa Pandu bisa sakit seperti itu. Keluarga yang luar biasa 'terhormat'," kataku.
Seketika itu wajah bunda berubah takut. Bunda Laura pun terlihat begitu. Yang lebih takut adalah Kak Putri.
"Faiz, kami sebenarnya tak ingin membicarakan hal ini denganmu agar kamu tak mengikuti jejak ayahmu," kata Bunda Laura.
"Terlambat, apa bunda tahu aku sudah tidur sama Kak Putri? APa bunda juga tahu kalau aku sudah tidur ama Bunda Vidia dan Bunda Nur?"
Mata bunda berkaca-kaca. Ia menutup mulutnya terlihat wajah sedihnya.
"Faiz?! Apa yang kamu lakukan?" bentak Bunda Laura. "Kau sadar apa yang kamu lakukan?"
"Ini semua gara-gara dia!" aku menunjuk Kak Putri.
Bunda dan Bunda Laura pun menoleh ke arah Kak Putri. Kak Putri menunduk dan tiba-tiba terisak.
"Ada apa ini Put?" tanya Bunda.
"Kak Putri, tak kuduga kau sejahat itu. Kau jahat, sangat jahat!" kataku. "Kenapa kau taruh obat perangsang ke minumanku?"
"Karena aku tak mau kamu pergi dariku Faiz, aku ingin kamu mencintaiku," kata Kak Putri.
"Putri, kamu sadarkah? Dia ini adikmu!" kata Bunda.
NONTON DULU GAN BARU LANJUT
"Aku sadar. Justru itulah aku mencintainya. Aku ingin menjadi istrinya. Aku ingin hidup bersama Faiz bunda. Kalau ayah bisa hidup bersama kakak dan adiknya kenapa aku tidak?" kak Putri berdiri dan hampir saja memelukku. Tapi aku mendorongnya hingga ia jatuh.
"Aku tak butuh dirimu!" kataku.
Kak Putri terbelalak. Ia tak menyangka aku akan mengatakannya.
"Katakan kak, kau sayang kepadaku?" tanyaku
"Tentu saja, aku sayang kepadamu," jawabnya.
"Kalau kau sayang kepadaku, kalau kau cinta kepadaku, kenapa kau membunuhku?"
"Membunuhmu?"
"Kamu tahu, Iskha adalah nyawaku. Dia adalah hidupku, setiap detak jantungku ada dirinya. Setiap nafasku ada namanya. Jiwaku dan jiwanya sudah terikat satu dengan yang lain. Kenapa kau rusak? Kenapa kau menjauhkan aku dengan dia? Kenapa kau melakukan hal sejahat itu? Kau ini katanya kakak yang menyayangiku, tapi nyatanya kau malah menghancurkan hidupku. Aku tak akan memaafkanm seumur hidupku," kataku.
"Tidak, Faiz...jangan lakukan itu!" kata kak Putri mengiba.
"Aku akan menjemput Iskha dan satu hal lagi. Aku akan pergi dari rumah ini! AKu muak dengan keluarga Hendrajaya. Aku akan menyendiri, tanpa bantuan kalian aku bisa mandiri," kataku.
"Faiz, ini gila!" kata bunda.
Aku tak menghiraukannya. Aku segera masuk ke kamarku. Aku persiapkan koporku. Kumasukkan seluruh baju-bajuku, buku-bukuku. Paling tidak yang aku butuhkan saja. Sedangkan yang tidak aku butuhkan aku tinggalkan. Tekadku sudah bulat. Aku akan pergi dari rumah ini. Aku akan menjemput Iskha. Aku akan kembali kepadanya. Setelah mengepak barang-barang. Aku melihat kamarku sebentar. Aku akan merindukan ruangan ini. Tapi aku tak butuh melankolis seperti ini. Sudah semestinya aku pergi dari dulu.
Aku keluar kamar di ruang keluarga. Aku mendapati Kak Putri menangis tersedu-sedu di hadapan Bunda dan Bunda Laura. Mereka semua menoleh ke arahku ketika mendapati aku membawa kopor besar.
"Faiz...?? Tenang nak, bunda sudah tahu, Putri sudah cerita semuanya. Kumohon jangan lakukan ini!" pinta Bunda. Ia juga bersedih, matanya berurai air mata.
"Aku sudah katakan. Aku tak akan memaafkannya!" kataku.
"Faiz, aku akan menjemput Iskha, aku akan mengembalikan dia kepadamu tapi kau jangan pergi, aku mohon. Maafkan aku, maafkan aku Faiz!" Kak Putri menjerit sambil menangis.
"Aku sudah bilang aku tak akan memaafkanmu! Jangan pernah mengharapkan aku kembali lagi ke sini. Soal warisan, biar ayah berikan saja ke anaknya yang lain. Aku tak berminat, sejak dari dulu aku tak berminat. Kak Putri, aku muak melihatmu!" kataku.
Setelah itu aku melangkah pergi. Kak Putri menahan kakiku. Bunda juga menarik tanganku.
"Faiz, kumohon jangan pergi! Kumohon!" kak Putri dan Bunda melarangku.
Aku terus melangkah sambil menyeret mereka. Mereka berusaha mencegahku untuk pergi. Sudah cukup aku tak memaafkan mereka lagi.
"Demi Bunda Faiz, tolong jangan pergi! Aku akan menghukum kak Putri, tapi kau jangan pergi! Kumohon! Bunda akan bantu mencari Iskha, tapi jangan pergi! Apa yang harus bunda bilang ke ayahmu? Bunda tak tahu apa yang akan bunda katakan kepada ayahmu!" kata bunda.
"Faiz, tolonglah kasihanilah Bundamu. Bundamu tidak bersalah, jangan begini Faiz!" kata Bunda Laura.
Aku meronta sehingga tangan bunda terlepas dariku. Aku lalu menarik kakiku dengan kasar sehingga terlepas dari tangan Kak Putri. Aku lalu berjongkok di depan Kak Putri Wajahku mendekat ke wajahnya.
"Kak PUtri sekarang menangis? Kehilangan orang yang dicintai kan? Kehilangan orang yang disayangi kan? Kakak sekarang tahu bukan rasanya? Rasakan itu. Meneror Iskha, membuat dia takut, mengusir dia. Aku sama sekali tak memaafkan hal ini. Jangan pernah memaksaku lagi untuk pulang. Mau kakak mati kek, mau hidup, mau sakit, aku tak akan lagi peduli ama kakak. Sejak kecil aku melindungi kakak, selalu membela kakak, menyayangi kakak sekarang inikah balasannya?"
Setelah itu aku beranjak meninggalkan rumah ini. Rumah yang sudah aku tempati selama lebih dari sepuluh tahun. Aku ke mobil Lotusku hasil dari menang balap liar. Aku memilih mobil ini karena mobil ini aku dapatkan dengan perjuanganku. Sedangkan mobil Honda City itu adalah dari uang ayahku. Aku sudah bertekad tak ingin menerima uang dari ayahku lagi. Aku sengaja tak membawa ATM dan kartu kredit dari ayahku. Aku hanya membawa ATM dari uang tabunganku sendiri. Yang aku dapat dari hasil balap liarku. Entah nanti aku akan kerja apa di luar sana.
Aku membuang ponselku agar mereka tak menghubungi aku lagi. Aku mengambil uang yang ada di dompetku lalu aku sebar di halaman. Itu uang yang diberikan oleh ayahku. Aku buang semuanya.
Kak Putri masih menangis dan memanggil-manggil namaku. Aku pun pergi. Selamat tinggal keluarga Hendrajaya. Selamat tinggal Mas Pandu. Selamat tinggal masa kecilku.
NARASI PUTRI
"Faizzz...maafkan kakak, maafkan kakak!" aku menjerit sejadi-jadinya.
"Putri, sudah put!" Bunda mencoba menghiburku.
"Bunda, Faiz bunda. Maafkan Putri bunda, maafkan Putri...Faiz....!" aku hanya bisa memelas melihat Faiz pergi dengan mobilnya. Ia tak akan kembali lagi. Aku baru kali ini melihat kemarahan Faiz. Aku memang bersalah. Entah kenapa aku bisa melakukan itu. AKibat hal ini aku kehilangan Faiz untuk selamanya. Aku sudah merampas hidupnya. Aku menyesal. Menyesal sekali. Kini dia membenciku, pergi dari rumah.
Bunda lalu memapahku ke kamar. Kami berdua sama-sama bersedih. Aku masih menangis sambil memeluk bantal. Aku berbaring di kamarku. Bunda mencoba menenangkanku. Bunda Laura juga demikian. Kulihat Pandu dan Juni melongok dari pintu. Mereka keluar ketika Faiz pergi.
"Sudah kubilang, Faiz akan marah," kata Pandu.
"Kamu tahu ini semua kenapa tak bilang ke Bunda?" tanya Bunda.
"Itu dosanya Kak Putri, bukan dosaku," jawab Pandu. "Kalau aku di posisi Faiz, aku akan melakukan hal yang sama."
Pandu lalu pergi bersama Juni. Aku menangi lagi.
"Sudah put, sudah. Ibu juga bersedih," kata Bunda.
"Bunda, ...bunda jangan marahi Faiz ya, kumohon. Ini salahku, semua salahku," kataku.
"Iya, bunda tak akan memarahi Faiz. Bunda janji," kata Bunda.
"Satu lagi bunda...aku...sedang mengandung anaknya," kataku.
"Apa??!" Bunda dan Bunda Laura terkejut.
"Kamu yakin itu anaknya?" tanya Bunda Laura.
"Iya..., ini anaknya. Sebulan ini aku hanya melakukan dengan dia saja," jawabku.
"Lalu kenapa kau tak bilang ke Faiz biar dia tidak pergi. Mungkin dia bisa memaafkanmu!" kata bunda.
"Dia tak akan memaafkanku bunda. Bagaimana mungkin ia akan terpengaruh kepada anak ini? Bunda lihat sendiri bagaimana dia marah bahkan aku mati pun dia tak akan peduli."
"Trus bagaimana sekarang?" tanya bunda.
"Aku tak tahu bunda. Yang jelas, aku tak ingin menggugurkannya. Aku ingin merawatnya sebagai kenang-kenangan dari Faiz. Aku akan menyayanginya Bunda. Bantulah Putri melahirkan anak ini bunda. Bunda bisa kan?" tanyaku.
Bunda lalu memelukku. "Putri...kamu adalah anak bunda. Bunda pasti akan meyayangimu, bunda akan lakukan apa saja untukmu."
Perasaanku sedikit tenang sekarang. Aku mengusap-usap perutku. Anakku...maafkan ibu ya nak. Seharusnya semuanya tidak seperti ini. Tapi kalau kamu lahir nanti jangan marah sama ayahmu ya, marahlah sama ibumu nak. Ibumu yang salah.
==================
NARASI ISKHA
Mas Faiz, aku tak bisa melupakanmu mas. Sudah sebulan ini aku berada di kota Malang. Malang dan Jakarta. Jauh sekali. Walaupun aku ada rekomendasi pindah ke sekolah yang baru, tapi aku tak masuk ke sana. Aku masih shock. Aku lebih banyak mengurung diri di kamar. Keluar rumah pun jarang. Ibu dan ayah dengan sangat terpaksa mencari penghasilan baru. Ibu masih bisa menjahit sedangkan ayah, tiba-tiba saja mendapatkan surat PHK. Itu sungguh menyakitkan. Ayah sekarang membenci keluarga Hendrajaya. Tapi satu yang beda adalah ayah tak membenci Mas Faiz. Sebab ayah tahu Mas Faiz tak salah.
Faiz. Nama itu terus ada di dalam hatiku. Demi melindungi keluargaku sekarang aku berada di sini. Semua kontak dengan teman-temanku pun hilang. Aku minta maaf kepada mereka. Tapi rasanya tidak cukup.
"Iskha, udah nak. Kamu nggak boleh terus-terusan seperti ini," kata ibu. "Tuh lihat, matamu sembab. Kamu sedih koq tiap hari sih? Keluar yuk? bantu ibu belanja."
Aku hanya mengangguk pelan.
"Ibu tahu perasaan kamu kepada Faiz. Dia emang cowok yang baik, tapi keluarganya tak setuju. Ya mau gimana lagi? Ayo dong jangan sedih," kata ibu.
"Mas Faiz sudah jadi hidupku ibu. Aku tak bisa melupakannya, sakit rasanya rindu ini," kataku.
"Ibu tahu perasaanmu, ibu juga pernah muda," kata ibu. "Ibu juga kangen ketika ayahmu pergi jadi masinis. Apalagi keretanya jarak jauh semua. Lebaran tambah dia nggak pulang. Kangen dong pasti."
Aku tersenyum.
"Nah, begitu tersenyum. Ibu suka kalau kamu tersenyum gitu. Anak ibu yang paling cantik ini," ibu memelukku. Emang pelukan ibu itu menentramkan.
"Ayo bu, Iskha bantu berbelanja," kataku. Sambil menggandeng ibu.
Setelah itu aku berbelanja dengan ibuku di pasar untuk kebutuhan sehari-hari. Uang yang diberikan oleh Kak Putri itu lebih dari cukup. Gila apa 700 juta. Tapi ini terlalu banyak. Kami malah berminat untuk mengembalikannya setelah ayah punya pekerjaan baru nantinya. Sebab kami tak punya penghasilan apa-apa dan tiba-tiba sudah tinggal di rumah baru.
Tiap hari aku memainkan piano pemberian Mas Faiz. Benda inilah yang bisa mengingatkanku kepada Mas Faiz. Aku bermain piano sampai terkadang aku menangis. Aku hancur rasanya, tak adakah yang bisa mengerti betapa aku sangat merindukannya? Mas Faiz, apakah engkau dengar kata hatiku? Aku mencintaimu Mas, aku tak akan bisa melupakanmu. Selamanya.
Malam hari ada yang lain hari itu. Saat aku memainkan piano tiba-tiba pintu diketuk.
"Ibu, ada tamu tuh!" kataku.
Tapi ibu tak muncul juga, mungkin sedang sibuk di dapur.
"Bayu!?" panggilku.
"Aku sedang main game nih, ganggu aja!" kata adikku.
Aku pun bete. Aku beranjak dari kursiku. Melodi-melodiku tadi langsung buyar semua meninggalkan suara fals yang aku tekan di tuts piano. Aku heran juga jam sudah menunjukkan pukul 20.00 tapi koq ada ya yang bertamu malam-malam begini. Siapa sih? Padahal kami juga belum lama pindah, mungkin Pak RT atau tetangga sebelah.
Aku pun membuka pintu.
"Ya??..", mulutku tercekat seketika itu juga saat aku melihat siapa yang ada di depan pintu.
"Siapa Iskha?" suara ibuku datang dari dapur. Ia membawa spatula dan ketika tahu siapa yang ada di depan pintu ia menjatuhkan spatulanya.
"Iskha, kembalilah kepadaku!" kata orang itu. Itu...Mas Faiz. Mas Faiz?? Aku tak bermimpi kan?
"Mas Faiz?" kataku dengan bibir gemetar.
"TIdak mas, kenapa? Kenapa? Kenapa mas ke sini?"
"Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah pergi dari rumah, aku tak akan menempati lagi rumah keluarga Hendrajaya. Rumah petaka itu sudah aku tinggalkan. Aku ingin bersamamu. Kembalilah kepadaku Iskha, engkau adalah nyawaku. Engkau adalah hidupku. Setiap detak jantungku, setiap tarikan nafasku ada dirimu. Iskha...," kata-kata Mas Faiz itu sangat manis.
Mas Faiz kau pernah membuatku klepek-klepek. Tapi kenapa hari ini kau buat aku klepek-klepek lagi? Aku tak tahu bagaimana wajahku saat itu, senang, gembira, ingin histeris. Tapi, bagaimana dengan keluarganya kalau tahu dia ada di sini? Bagaimana dengan kak Putri?
"Kamu tak usah memikirkan Kak Putri. Ia tak akan berani lagi menyentuh kalian. Aku janjikan itu kepadamu," kata Mas Faiz.
"Mas Faiz,...aa...aku..," aku tiba-tiba tak tahu harus berkata apa-apa.
Mas Faiz segera memelukku, tak cuma itu ia langsung menciumku begitu saja. Seketika itu aku seperti seorang yang kehausan di padang Pasir tiba-tiba saja menemukan sebuah oase. Aku memang ingin dicium olehmu Mas. Ciumlah aku, ciumlah aku, lumat bibirku. Peluklah aku karena engkaulah obat ini, engkaulah pelepas dahaga ini. Mas Faiz. Ohhh...aku rindu...
Mas Faiz melepaskan ciumannya dan berkata, "Jangan pergi lagi dariku."
"Aku tak akan pergi lagi mas. Oh...Mas Faizku," aku memeluknya lagi.
****
NARASI FAIZ
Setelah menjemput dia dari Malang, Iskha kembali ke rumahnya yang dulu dan kembali sekolah ke sekolahnya yang dulu. Semuanya kembali seperti semula. Aku sudah tak peduli lagi kepada keluargaku. Aku benar-benar mengancam pihak sekolah kalau tidak menerima Iskha lagi sekolah di sana maka akan berurusan dengan diriku. Mereka pun akhirnya mengijinkannya. Iskha tentu saja gembira. Ia bisa berkumpul lagi dengan teman-temannya. Dengan Nailul, dengan Hani, dengan anggota bandnya lagi dengan semuanya.
Hubunganku dengan Iskha kembali lagi. Ia kembali lagi kepadaku. Sesuatu yang tak akan bisa dibeli dengan apapun. Hubunganku dengan Iskha tamba erat kali ini. Aku bahkan tak malu-malu lagi menunjukkan kemesraanku bersamanya dimanapun. Mencium pipinya sekarang sudah tak semalu dulu lagi.
Aku tinggal di sebuah rumah kost. Lagi-lagi Eriklah yang membantuku. Ia memang temanku yang setia kawan. Ia juga membantuku untuk menjual mobil Lotusku di internet. Dan hasil uangnya aku belikan sepeda motor, sebagian lagi aku tabung. Mobil Lotus termasuk mobil sport, jadi harga cukup mahal, apalagi setelah dimodif. Aku menjualnya seharga 800jt. Lumayan juga sih. Ada anak seorang konglomerat yang memang kepingin mobil itu. Okelah.
Tak hanya itu. Untuk mandiri aku bersedia bekerja di Kafe Brontoseno. Hal ini aku lakukan agar aku dan Iskha selalu bersama kemana-mana. Dan tentu saja Iskha sangat menyukainya. Dari anak seorang milyarder menjadi seorang pelayan. Rasanya tak begitu jelek, toh ini juga keinginanku. Semenjak aku kenal Iskha, aku lebih menyukai kesederhanaan. Bagiku bekerja seperti ini bisa melatihku lebih lagi untuk menjadi orang besar suatu saat nanti.
Malam itu aku bekerja seperti biasa. Aku mencatat pesanan pelanggan. Semenjak aku bekerja di sini pengunjungnya lumayan ramai. Terutama cewek-cewek. Aku tahu sih sebagian mereka ingin tahu bagaiman putra Hendrajaya bisa kerja di kafe ini. Terkadang mereka pun menggoda aku.
"Ada lagi yang dipesan?" tanyaku.
"Cukup saja mas," katanya.
Aku segera meninggalkan meja itu dan ke dapur. Teman-teman yang lain segera membuat pesanan itu. Iskha tampak bernyanyi seperti biasanya. Sambil sesekali melihatku yang bekerja keras. Aku sudah mulai terbiasa kerja seperti ini, nggak jelek juga sih. Walaupun gajinya tak seberapa, paling tidak itu bisa membantuku survive.
Seorang lelaki dengan setelah hitam dan jas masuk ke kafe. Seketika aku kenal siapa dia. Dia ayahku. Aku tahu kenapa ia ada di sini. Ia ingin menemuiku. Ayahku menatapku dari jauh. Dia melambai ke arahku. Aku segera datang kepadanya. Semua orang melirik ke arahku, karena tahu ada Doni Hendrajaya di kafe ini.
"Duduklah!" perintah ayahku.
"Mau pesan apa?" tanyaku.
"Seperti itukah kamu bicara dengan ayahmu, duduklah!" katanya.
"Kalau kau mengambil jam kerjaku maka aku tak bisa melakukannya. Kalau kau ingin bicara maka tunggu aku selesai bekerja," jawabku.
"Kubilang duduk!" kata ayahku dengan suara datar dan sedikit meninggi.
Aku pun duduk.
Ayah menghela nafas. Ia mengambil rokok disakunya dan mulai menyalakannya. Dia tak bicara hanya menatapku.
"Ayolah, aku tak ada waktu untuk menemani ayah di sini," kataku.
"Aku kecewa, tapi juga menyesal," kata ayah. "Kau tak perlu memikirkan tentang pekerjaanmu. AKu bisa saja kataka kepada Pak Liem agar memecatmu, tapi aku tak melakukannya. Aku kecewa karena kau membuat ibumu bersedih. Juga membuat Putri bersedih. Aku sudah tahu semuanya. Dan aku menyesal, menyesal tak memberitahukan hal ini kepadamu."
"Ayah ingin apa sekarang?" tanyaku.
"Aku ingin kau kembali," jawabnya.
"Aku sudah bilang tidak mau," kataku.
"Faiz, dari semua anak-anakku kaulah yang paling aku sayangi. Ketahuilah itu," jelasnya. "Dan aku akan melakukan apa saja untuk membuatmu kembali."
"Ayah tak akan bisa, tekadku sudah bulat. Aku sudah tak akan kembali ke keluarga Hendrajaya dan jangan memaksaku."
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Bekerja seperti ini? Sedangkan masa depanmu cerah ketika di keluarga ini? Mendapatkan harta, kedudukan semuanya??"
"Aku sudah membulatkan tekad. Ayah tak akan bisa memaksaku."
Ayah menghisap rokoknya dalam-dalam. Setelah itu ia matikan di asbak yang tersedia di meja. "Tak ada kandidat yang pantas menggantikanku kecuali kau. Aku yakin kau akan kembali. Kalau kamu pulang dan benci dengan putri, tak usah khawatir. Putri sudah pergi dari rumah atas inisiatifnya sendiri. Dia sangat menyesal, mungkin seumur hidupnya akan penuh dengan penyesalan. Perusahaan ini adalah milikmu. Kalau aku tiada nanti, engkaulah yang akan menjalankannya. Kau cerdas, kau sangat berbakat dalam bidang bisnis. Dan keputusanku tidak bisa diubah."
Ayah berdiri. Aku juga. Tinggi kami sama, menurut orang di antara anak-anaknya akulah yang paling mirip. Dia menepuk pundakku. Sebelum pergi.
"Hari ini aku sudah memaafkanmu terhadap apa yang kau lakukan kepada bunda-bundamu. Mereka juga sudah memaafkanmu. Aku sudah tahu semuanya. Kalau kamu kembali, kami akan dengan senang hati menyambutmu," kata ayahku. Di pergi begitu saja. Meninggalkan aku sendiri.
Aku menoleh ke arah Iskha. Aku tak tahu kalau semua orang melihatku sekarang ini. Aku kembali ke tempatku dan melanjutkan pekerjaanku. Biarpun ayah berkata demikian. Aku tetap pada pendirianku, tak akan kembali ke sana.

ليست هناك تعليقات for "𝐀𝐧𝐚𝐤 𝐁𝐚𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐁𝐚𝐠.𝟑𝟑 [𝐏𝐚𝐬𝐫𝐚𝐡]"
إرسال تعليق