𝐀𝐧𝐚𝐤 𝐁𝐚𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐁𝐚𝐠.𝟏𝟗 [𝐰𝐚𝐫𝐢𝐬𝐚𝐧]
"Ah, bangsat!" kataku. Kemana perginya Putri dan ibunya?
Sudah beberapa tahun ini aku mencari tapi hasilnya nihil. Aku sekarang tinggal di sebuah gubuk derita. Tempat yang tak layak disebut dengan namanya rumah. Ini semua karena kebodohanku. Aku dulu adalah orang kaya. Sangat kaya. Hingga kemudian perselingkuhan menghancurkan diriku dan juga rumah tanggaku. Bodohnya aku pergi dan menceraikan istriku. Ternyata wanita yang aku selingkuhi malah hanya ingin hartaku.
Aku sangat menyesal sekarang. Namaku Johnny Amartand. Aku bukan orang asli Jawa. Orang daerah timur. Sejak dulu aku sudah merantau. Hingga kemudian aku bertemu dengan Juni. Awalnya aku sangat menyayanginya. Namun karena ketamakanku terhadap duniawi akhirnya aku pun menceraikannya. Kisahku sangat pilu. Semuanya hanya berakhir dengan penyesalan.
Bertahun-tahun yang lalu aku mencoba mencarinya. Di rumahnya dulu sudah tidak ada orang. Kata para tetangganya rumahnya sudah sepi, pindah bersama orang tuanya ke luar pulau. Harapanku untuk bisa kembali kepadanya pun pupus. Bertahun-tahun juga aku rindu Putri anak semata wayangku. Bagaimana keadaanmu sekarang nak? Apakah kamu sudah jadi gadis yang cantik yang selalu manja kepada bundamu? Aku hanya punya fotonya sewaktu ia masih bayi. Setiap hari hanya penyesalan. Itulah yang aku alami.
Tapi hari ini aku harus survive. Paling tidak seperti itu. Dari seorang pengusaha kaya yang punya kantor dan gedung sendiri. Sekarang hanya menjadi tukang penjual lele di pasar. Aku hanya punya 3 kolam lele. Usaha ini sudah aku tekuni selama bertahun-tahun dan aku hidup dari ini. Kecil memang, karena tenagaku terbatas. Sebenarnya kalau ada modal, aku bisa lebih besar lagi membangun bisnis ini.
Setelah menjual lele di pasar hingga siang hari, aku beralih profesi sebagai juru parkir di sebuah mall. Baru setelah itu aku cari makan, kongkow-kongkow sebentar dengan orang-orang lalu pulang. Selalu seperti itu. Berulang-ulang dan aku tak pernah bosan.
Aku tak punya keluarga lagi. Kedua orang tuaku sudah meninggal saat aku tinggalkan tanah Makassar. Satu-satunya keluargaku sekarang hanyalah putriku. Dan tentu saja mantan istriku kalau ia masih mau balik kepadaku. Tapi rasanya mustahil. Sebab aku meninggalkannya terlalu lama dan mungkin sudah ada lelaki baik-baik yang menikahinya. Bisa jadi lelaki itu lebih kaya dari aku. Atau lebih tampan dari aku atau lebih lembut dari aku.
"Bang John!" seru seseorang dari luar gubukku.
Aku buru-buru keluar. Tampak Pak Gunadi seorang yang berprofesi sebagai sopir taxi sudah ada di depan rumah.
"Ada apa ya pak?" tanyaku.
"Kamu ingin uang tambahan tidak?" tanyanya.
"Emangnya ada?" aku sangat gembira sekali.
"Di mall, butuh orang tuh untuk bikin panggung. Kebetulan supervisornya aku kenal dan ia sedang butuh tenaga. Kalau kamu ingin aku bisa antarkan sekarang," katanya.
"Wah boleh boleh!" kataku dengan senang hati.
"Ya sudah, ganti baju kita berangkat sama-sama," katanya.
Setelah itu aku ganti baju dan dandan sedikit necis. Pertukangan bukanlah hal yang sulit aku lakukan. Sebab aku sudah terbiasa melakukan pertukangan. Rumahku yang hanya terdiri kayu balok dan tripleks ini akulah yang membangunnya sendiri. Orang-orang hampir saja tak percaya aku mampu melakukannya. Sejurus kemudian kami sudah berada di mobil taxi milik Pak Gunadi. Tak butuh waktu lama hingga kami sudah keluar dari perkampungan kumuh.
"Pak John inikan orangnya tekun dan ulet. Orang-orang kampung sini percaya sama bapak. Dan kita kan juga udah lama berteman. Paling tidak bagi-bagi rejekilah," kata Pak Gunadi. "Nanti kalau sudah masuk ke mall tanya saja bagian security, mencari Pak Aryo bagian supervisi. Nanti kalau sudah ketemu sama Pak Aryo, bilang kamu direkomendasikan olehku. Ia sudah aku beritahu."
Aku manggut-manggut saja. Setelah beberapa jam berputar-putar dan terjebak macet. Aku pun sampai. Segera aku lakukan apa yang ditunjukkan oleh Pak Gunadi tadi. Aku pun diarahkan ke ruangan di mana aku bertemu dengan orang yang dimaksud. Di sana aku tak sendirian. Banyak juga tukang-tukang yang lain. Sambil menunggu semuanya berkumpul, kemudian kami dibriefing.
Mall ini akan ada pertunjukan artis ibu kota dan juga band-band terkenal. Maka dari itulah kami menata panggung. Awalnya aku enjoy saja bekerja. Saling membantu dan berkenalan dengan beberapa pekerja lainnya. Tak ada yang aneh hari itu, hingga setelah jam makan siang dan istrihat terjadilah sesuatu.
Kami istirahat di kantin. Diberi kupon oleh Pak Aryo. Kami bebas makan apa saja dengan kupon itu. Tapi cukup untuk satu porsi dan satu orang. Di mall ini ada area tempat makan. Banyak restoran-restoran yang membuka stand di sini. Mulai dari fastfood terkenal semisal McD, KFC, Hokben dan lain-lain. Aku sih pilih yang biasa-biasa saja. Pesan nasi goreng dan es teh.
Entah kenapa aku hari itu duduk di meja yang sepi. Berdekatan dengan meja yang sudah dipakai oleh keluarga lainnya. Pengunjung mall itu sangat banyak. Dan mungkin memang meja itu ditakdirkan untukku. Sambil menunggu makanan datang aku pandangi lagi wajah anakku. Aku lagi-lagi menyesalinya. Dan mungkin akan menjadi penyesalan seumur hidupku. Keluargaku oh keluargaku. Di mana kalian sekarang?...
"Mas, ini juga pesen buat orang-orang di rumah ya?" celoteh seorang wanita yang duduknya di meja sebelahku. Kerudungnya berwarna hijau. Tampak ia sedang menggendong bayi. Wajah bayi itu lucu sekali. Jadi ingat sama anakku. Di meja itu ada seorang lelaki yang badannya tegap. Tidak terlalu tinggi maupun pendek. Perawakannya bersahaja. Tersirat rasa kegembiraan di wajah pria ini. Dan di kursi yang lain ada 2 orang anak. Lelaki dan perempuan. Yang paling besar adalah seorang perempuan. Wajahnya tampaknya tak asing bagiku.
"Iya, aku sudah pesenkan koq. Tunggu aja dulu," kata si lelakinya.
"Bunda, Faiz masih haus, boleh ya pesan minum lagi?" tanyanya.
"Bisa sayang. Ah iya, Putri juga?" tanya si ibu.
"Udah cukup masih banyak koq," kata anak perempuan itu.
Putri? Tunggu dulu. Apa aku tak salah dengar? Jangan-jangan dia ini Juni. Iya, wajah anak perempuan itu mirip sekali dengan wajah istriku. Iya mirip. Tak salah lagi. Tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa diam mengamati mereka semuanya.
"Sebentar bunda mau ke standnya dulu," kata si ibu. Wajahnya aku bisa melihat. Itu....itu....aku tak percaya...itu Juni. Mulutku gemetar. Aku mencoba menahan perasaan ini. Aku ingin minta maaf kepadanya, tapi melihat ada lelaki yang bersamanya aku pun mengurungkan niatku untuk menyapanya. Bisa jadi itu suaminya dan aku...aku tak berdaya.
"Biar aku saja, kamu duduk aja di sini," kata si suaminya.
"Gak apa-apa mas, lagian aku juga ingin beli yang lain. Bentar yah," kata wanita itu. Iya, ia pasti Juni. Aku tak akan lupa wajahnya. Sekarang sudah berbalut jilbab. Dan ia sudah punya anak banyak.
Juni pun pergi ke stand yang masih antri. Lelaki yang bisa jadi suaminya itu tampak asyik bercengkrama dengan Putri dan anak lelaki yang dipanggil Faiz. Pesananku tiba. Seorang pelayan muda menghampiriku dan meletakkan pesananku di meja. Aku tak lagi nafsu makan. Aku hanya bisa memandangi Putri. Ia sekarang sudah besar. Aku mencoba berusaha menahan air mataku, tapi tak bisa. Lelehan air mata itu pasti terlihat jelas oleh orang-orang kalau mereka melihatnya.
Saat itulah Juni kembali lagi ke mejanya. Ia melintasiku. Ia bahkan tak mengenali aku lagi. Mungkin di hatinya sudah tidak ada lagi aku. Iya. Aku orang yang bodoh. Melakukan kesalahan yang sangat fatal. Seandainya dulu aku tak melakukannya, mungkin sekarang ini aku bahagia bersama Juni. Pesanan meja mereka sudah datang. Mereka makan bersama seperti keluarga utuh yang bahagia. Cemburunya aku. Aku sangat cemburu.
Cukup lama aku terdiam. Aku pun menyuapi diriku pelan-pelan. Nasi goreng yang harusnya lezat pun rasanya hambar di mulutku. Mulutku pun malas untuk membuka. Aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Padahal di sebelahku ada orang-orang yang dulu sangat aku cintai. Kini mereka sudah tidak ingat lagi tentang aku.
"Tadi udah dibayar belum?" tanya sang suami.
"Aduh lupa, pantesan belum dikirim coba deh mas ke kasir dulu," kata Juni.
"Ikut pah!" Faiz berjingkat.
"Ikut juga!" Putri ikut-ikutan.
"Ya ya ya, ayo!" lelaki itu pun menggandeng putriku dan putranya.
Juni tampak masih menyuapi anaknya yang masih bayi itu dengan biskuit. Bahagianya mereka. Aku pun berusaha memanggilnya, "J..jj..Juni?!"
Ia melirik ke arahku. DEG! Mata kami beradu. Tiba-tiba sorot matanya berubah. Raut wajahnya berubah menjadi amarah. Ia melihat sekitar dan melihat suaminya dari kejauhan.
"Mas Johny?" katanya. "Mau apa kamu?"
"A...a..aku ...aku tak sengaja berada di sini," kataku.
"Kita sudah tak ada hubungan lagi mas, kita sudah cukup!" katanya.
"Iya, aku tahu. Aku tahu. Aku hanya ingin bisa melihat putriku. Kumohon biarkan aku bisa melihatnya, jangan usir aku," kataku. "Anggap saja aku orang lain. Biarkan aku melihatnya sejenak. Aku selama ini sudah salah kpadamu dan aku menyesal. Seluruh hidupku hancur. Aku yang salah."
Juni tak menanggapi. Raut mukanya benar-benar menunjukkan bahwa ia sangat membenciku.
"Aku bukan Juni lagi. Aku adalah Aula. Aula Rahmawati binti Tengku Nadhim, aku bertemu dengan ayah kandungku mas kalau dulu mas remehkan aku karena miskin, ketahuilah sekarang kekayaanku tak terbatas dan aku mendapatkan orang-orang yang mencintaiku. Pergilah. Aku muak melihatmu! Kau tidak ada lagi di hatiku. Pergi sekarang!" katanya.
"Juni, biarkan aku sebentar saja di sini. Hingga kalian pergi. Walaupun aku tak bisa memeluk putriku, setidaknya biarkan aku melihatnya dari jauh," kataku.
Juni diam. Ia menyuapi anaknya lagi. Kemudian menatapku tajam, "Mas Doni sangat ingin menghajarmu atas apa yang kau lakukan terhadapku. Kalau ia sampai tahu kamu adalah mantan suamiku, kau tak akan keluar dari tempat ini hidup-hidup. Kebencianku kepadamu sama dengan kebenciannya terhadapmu. Kau telantarkan Putri begitu saja, sekarang kau memohon untuk bisa dekat dengannya? Aku tak bisa memberikannya mas. Tidak bisa!"
Aku lalu menunduk. Kututupi wajahku. Air mataku tak terbendung lagi. Tampak suaminya, putri dan anak laki-lakinya datang lagi ke meja.
"Pulang?" tanya suaminya.
"Ayo mas!" Juni bangkit. Suaminya membawa bungkusan-bungkusan makanan yang ada di meja. Kemudian mereka pergi. Putri....aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Mungkin ini adalah terakhir kali aku melihatnya dan akan menjadi penyesalanku seumur hidup.
Warisan
Namaku Faiz. Boleh dibilang kehidupanku lumayan unik. Aku hidup dengan banyak saudara. Mereka adalah Putri, Icha dan Rendi. Aku anak nomor dua. Ayahku sendiri sangat kaya. Beliau menguasai bisnis toko waralaba bahkan sekarang pun menjadi pialang saham. Tidak hanya itu bisnisnya pun juga bergerak di bidang properti. Hampir semua gedung di kota ini perusahaannya yang membuat. Bahkan beberapa perumahan elit pun adalah dari perusahaannya. Jadi dengan kata lain, sangat tajir. Istrinya saja ada empat. Hebat kan?
Hanya saja dalam mendidik anak, dia tidak pernah pandang bulu. Walaupun punya istri empat dan juga masing-masing istrinya punya anak, bukan berarti salah satunya yang paling dimanja. Ayahku memegang prinsip keadilan. Well, di jaman segini ternyata masih ada yang punya rasa keadilan setinggi ayahku. Baiklah, ini adalah kisahku. Lebih tepatnya kisah perjalanan hidupku hingga aku mendapatkan cinta sejatiku. Hanya saja, untuk mendapatkannya tak semulus jalanku.
Cerita ini dimulai ketika aku masih duduk di bangku SMA. Di sekolah ini aku satu kelas dengan saudara tiriku Pandu. Dan kami semua tahu kalau Pandu ini anak yang paling disayang oleh ayahku. Bahkan kandidat terkuat untuk bisa mewarisi perusahaan ayahku sekarang ini. Kami tak iri bahkan kagum kepadanya. Sebab selain Pandu ini anaknya pintar, dapat beasiswa, dia adalah anak dari istri pertama ayahku. Makanya yang paling disayang, menurut beliau wajahnya selalu mengingatkan dia kepada mendiang istrinya yang telah tiada.
Sebenarnya Pandu ini orangnya baik, bahkan terlalu baik. Sekalipun di sekolahan dia dibully ia tetap mengalah. Akulah yang hampir setiap hari membela dia. Sekalipun dia kandidat terkuat mewarisi kerajaan ayahku, dia punya kelemahan yaitu penyakit asma. Penyakitnya ini sudah dideritanya sejak kecil. Sebagai anak kesayangan nomor dua, ayahku berpesan kepadaku untuk menjaga Pandu. Maka dari itulah aku dan Pandu selalu bersama, kami berbagi kenakalan bersama, kami juga berbagi kesenangan bersama, sedih juga bersama-sama. Lucunya juga dalam masalah cinta, kami juga mencintai orang yang sama. Bahkan tak jarang kami selalu bersaing untuk mendapatkan apapun. Termasuk juga cinta.
"Pan, masih ada ekskul?" tanyaku.
"Iya, kenapa?" tanyanya.
"Ya udah deh, aku tunggu aja kalau gitu," jawabku.
"Kalau ada acara tinggal pulang aja!" katanya.
"Ebuset, kita berangkat pake mobilmu monyong!" kataku.
Pandu ketawa, "Oiya lupa. Ya sudahlah tunggu aja, hari ini ada latihan soalnya."
"Ngomong-ngomong, kamu serius ya ama ekskul nyanyi ini? Mau jadi penyanyi?"
"Nggak taulah Iz, kamu tahu sendiri kalau aku ikut ekskul sepak bola misalnya, bisa mati aku cuma disuruh lari 100 meter aja."
"Bener juga sih. Oke deh, aku tunggu di perpus!"
"Nah, gitu dong, sekali-kali ke perpustakaan biar pinter. Nggak lihat bokep mulu."
"Halah, situ juga suka lihat."
Kami tertawa bersama lalu melakukan tos sebelum cabut ke tempat masing-masing.
Aku menuju ke perpustakaan. Perpustakaan sekolahan ini buka sampai sore. Setelah pulang sekolah memang beberapa orang anak masih duduk-duduk di bangku bahkan ada yang asyik bermain basket di lapangan basket. Beberapa di antaranya mengikuti ekskul. Pengunjung perpustakaan seperti biasa, sepi. Deretan rak buku memanjang seperti labirin berjejer buku-buku pelajaran, kamus, ensiklopedia dan buku-buku yang lain. Minus buku komik ataupun buku stensilan tentunya. Emang sekolah apaan?
Di perpustakaan pun aku iseng saja mencari buku sejarah. Entah kenapa kepengen banget baca buku sejarah. Maka aku ambil sebuah buku yang cukup tebal. Judulnya Di Bawah Bendera Revolusi. Eh, ini tulisannya Bung Karno. Lumayanlah untuk dibaca-baca. Tebel banget, mungkin ada sampai seribu halaman lebih. Aku pun mengambil tempat untuk membaca di sebuah meja yang kosong. Aku pun membuka bukunya dan ...... apa-apaan nih ejaan kuno semua. Jadi penulisannya masih memakai ejaan lama ternyata. Aku pun mulai menyesuaikan diri dengan membaca huruf "DJ" dibaca menjadi "J", huruf "J" dibaca menjadi "Y" ataupun "OE" menjadu "U".
Selagi asyik membaca saat itulah ada seorang cewek ikut mengambil tempat di mejaku. Cewek ini siapa yang tidak kenal. Dia ini cewek senior yang sama-sama disukai oleh aku dan Pandu. Namanya Vira. Rambutnya panjang, bau parfumnya itu sangat khas. Semacam parfum Perancis mungkin. Dan anaknya ini cukup kalem. Mungkin karena kalemnya ini kita jadi suka ama dia. Soal wajah, dia manis banget. Kulitnya putih. Waktu melihatku ada di perpustakaan dia nyeletuk.
"Tumben ada di perpustakaan," kata Vira.
Biarpun dikata dia seniorku, dia cukup kenal denganku. Ya iyalah, anak orang terkaya di kota ini masa' nggak dikenali. Dan Vira ini cukup kenal baik dengan aku. Aku pernah ngajak dia nonton bareng atau sekedar jalan bareng. Sama juga ama Pandu, ia juga diajak jalan bareng ama Pandu. Mungkin dia tahu kalau kita saingan merebutkan dia.
"Yah, nunggu Si Pandu tuh," kataku.
Dia tersenyum. Kumelirik buku yang diambilnya, buku Kamus bahasa Indonesia. Sepertinya ia sedang ada tugas. Ia mencatat sambil melihat kamus. Untuk beberapa menit lamanya ia tak melihatku karena sibuk menulis sedangkan aku sibuk melihat dia. Waduuh...pokoknya di dekat cewek ini rasanya aku bisa melihat taman-taman surga.
"Apaan?" tanyanya. Lamunanku pun langsung buyar.
"Eh, iya? Ada apa?" tanyaku.
"Kamu itu lho. Dari tadi melihatku terus, apa ada yang aneh ama mukaku" katanya.
"Oh tidak. Sama sekali tidak. Kau perfect koq," jawabku.
Ia menutup kamusnya. "Aku mau cabut, sampai besok yah."
"Eh, gitu aja?" tanyaku.
"Emang ada apa?"
"Ntar malem minggu kosong nggak? Boleh dong kita nonton bareng lagi. Ada film bagus lho."
Vira tersenyum sambil menggeleng-geleng. "Bilang aja mau ngajak kencan."
"Iya, emang mau ngajak kencan," jawabku.
"Sayangnya, aku sudah dibooking ama saudaramu besok Sabtu," katanya.
"Hah? Sialan. Keduluan deh," kataku.
Vira beranjak dari tempat duduknya, "Maaf ya, sampai nanti."
Aku memukul telapak tanganku sendiri. Sialan si Pandu, lebih gesit gerakannya daripada aku. Tapi aku ikhlas koq misalnya kalau Pandu bisa dapetin Vira. Kami sudah sepakat siapa pun yang dipilih oleh Vira maka dia harus menerimanya. Hanya saja aku tak pernah melihat mereka berdua jadian koq. Jadi ya tetep aja pe-de-ka-te dong.
"Tumben kamu di perpus?" celetuk seseorang. Dia adalah Bu Lina guru BP-ku.
"Eh, ibu. Belum pulang bu?"
"Justru aku yang harusnya tanya ama kamu, koq belum pulang?"
"Sedang nunggu Pandu bu."
"Oh, begitu," Bu Lina kemudian meninggalkanku. Beliau ini guru idolaku. Jilbabnya lebar, masih belum punya suami. Dia barusan lulus dua tahun yang lalu. Boleh dibilang dari semua guru di sekolahan beliaulah yang paling banyak ditaksir cowok-cowok. Dan kalau cowok konseling ama dia, lamaaaaa banget. Aku juga sering konseling ama beliau ini dan juga ikut-ikutan lamaaa banget kalau konseling. Hanya saja Si Pandu nggak suka ama Bu Lina ini. Mungkin dari sisi ini aku menang dari Pandu.
Aku lalu melanjutkan membacaku sampai entah berapa lama. Pokoknya ketika Pandu menelpon, aku segera cabut dari perpustakaan. Pandu keluar dari salah satu ruang ekskul bersama beberapa group vokalis lainnya. Setelah bertemu denganku kami pun pulang bersama memakai mobil Honda Jazz warna putih.
"Eh, gila kamu ya, udah ngajak si Vira jalan besok Sabtu, padahal aku mau ngajak dia," kataku.
Pandu tertawa. "Makanya siapa cepat dia dapat."
"Dasar, awas ya aku nggak mau kalah," kataku.
"Kamu bakalan kalah deh, besok Sabtu ini aku mau nembak dia," katanya.
"Buset, yang bener?"
"Lihat saja ntar!"
Aku lalu menengadahkan tangan dan mulutku komat-kamit.
"Ngapain?"
"Berdo'a biar kamu nggak diterima."
"Sialan lu!" Pandu memukul bahuku. Aku pun terkekeh-kekeh.
"Eh, hei lihat jalan! Lihat jalan!"
Agaknya jalanan macet membuat kami harus berjibaku dengan penuh kesabaran hingga sampai di rumah. Rumah kami ada di sebuah perumahan elit. Pandu tinggal bersama kami. Rumah dijaga oleh dua orang satpam yang berjaga bergiliran. Begitu mobil kami tiba sang satpam segera membuka pagar. Setelah mobil terparkir di dalam garasi, aku langsung melompat keluar dengan membawa ranselku.
Aku kemudian masuk ke rumah lebih dulu disusul Pandu. Di dalam aku melihat ibuku sedang menata meja makan.
"Udah makan Iz?" tanyanya.
"Belum bunda," jawabku.
"Ini masih tersisa banyak. Saudara-saudara kalian juga belum pulang koq, cuma Kak Putri saja yang sudah ada di rumah duluan," kata ibuku.
"Asyiik, mari makan!" kata Pandu.
"Pandu, hayo....ganti baju dulu!" kata ibuku sambil menjewer Pandu.
"Aduh duduh...iya Bunda Aula, iya!" kata Pandu. Ia mengambil sepotong lauk tempe yang ada di atas meja makan lalu berlari meninggalkan meja makan.
"Dasar Pandu!" gerutu ibuku.
Aku mencium tangan ibuku. Kemudian segera bergegas ke kamarku untuk mandi lalu ganti baju. Setelah wangi dan ganti baju aku menuju meja makan. Tampak Pandu sudah ada di sana. Aku kemudian menghabiskan nasi dengan sayur asem dan lauk tempe. Jangan dibayangkan orang tajir makannya spagheti atau pizza atau yang lain. Makanannya ya sama seperti penduduk lokal. Emang kita alien?
Setelah kenyang dan membereskan alat makan aku ke ruang keluarga. Di sini aku melihat Kak Putri ada di ruang tamu sedang menonton tv.
"Acaranya apa kak?" tanyaku.
"Lagi nonton film nih, Transformers," ujarnya. Ternyata dia sedang nonton HBO.
"Nggak kuliah?" tanyaku.
"Dosennya nggak masuk, makanya pulang duluan tadi," katanya.
"OH gitu ya?"
Aku melihat Pandu tampak sedang menelpon seseorang. Ia menjauh dariku, tapi aku bisa dengar jelas bagaimana dia mesra banget dengan lawan bicaranya. Arggh...sialan, itu pasti Vira.
"Iya dong, besok aku jemput yah? Si Faiz? Lagi nonton tv tuh ama kakaknya," kata Pandu sambil melirik ke arahku.
Aku lalu menggaruk-garuk rambutku padahal tidak gatal. Rambutku makin kusut.
"Ngapain?" tanya KAk Putri.
"Kalah deh ama Pandu," kataku.
"Soal cewek?" tanya Kak Putri.
"Ho-oh," jawabku.
"Hahahaha....kasihan deh lu."
"Ini kakak nggak belain malah ngejek, huuh..sini remotenya!" kataku sambil merebut remote dari tangan Kak Putri.
"Eits..nggak boleh! Enak aja aku yang pegang duluan koq."
"Sini!"
Aku dan Kak Putri pun bergelut berebut remote. Kak Putri ini memakai hotpants dan T-Shirt, jadi beberapa kali aku berebut remotenya hampir pasti aku juga memegang pahanya atau pun terkadang menyenggol payudaranya. Tapi karena kami saudara, apapun yang aku lakukan nggak ada efeknya. Aku juga begitu nggak ada rasa sebenarnya. Hanya saja, nanti perasaan itu pun muncul. Tapi belum sekarang.
Ketika kami berebut remote tiba-tiba ada tangan lain yang merebutnya. Kami berdua melihat Icha. Dengan tenang Icha memindah Channel ke Animax. Dan tampillah acara anime kesukaannya.
"Aaarrgghh...Ichaaaaa!" keluh kami berdua.
"Kalau kalian tak tahu cara gunain remote, biar aku aja!" katanya dengan nada datar lalu duduk di sofa dengan santai.
Satu hal kenapa kami tak berani merebut remote dari tangan Icha. Sebab kalau ia marah, maka ia akan menjerit dengan suara melengking yang akan mengakibatkan ibu marah besar dikira kami berbuat sesuatu kepadanya. Dan oleh karena itu, aku dan Kak Putri mengalah.
"Kamu sih!" Kak Putri memukulku dengan bantal sofa.
Icha ini masih SMP. Sama seperti Rendi mereka hanya terpaut satu tahun.
Begitulah hari-hari kami, keseruan di rumah. Berebut remote tv, bercanda, kadang juga kami musuhan antara satu sama yang lain. Bisa dibilang membuat bunda benar-benar naik pitam. Nggak ada yang salah kan? Normal bukan? Iya. Normal. Tapi hanya sesaat.
Hari ini ayah tidak ada di rumah, karena ia ke rumah istrinya yang lain. Biasalah, orang kalau sudah punya banyak istri harus menggilir istrinya dengan adil.
Hari sudah larut dan aku berada di kamarku. Iseng aku pun menelpon Vira. Awal mula aku dan Pandu suka ama Vira ini adalah ketika Masa Orientasi Sekolah. Vira jadi salah satu kakak seniornya. Dan dari situlah aku dan Pandu akhirnya berusaha untuk mencari perhatian dia, tanya nomor telepon dan seterusnya. Apalagi kita semua tahu ternyata Vira ini memang primadona di sekolah ini. Dan yang pasti dia ini jomblowati tulen berkualitas.
"Halo?!" sapa Vira.
"Halo Vir, lagi ngapain?" tanyaku.
"Lagi mau bobo', ada apa?" tanya Vira.
"Oh, sudah mau istirahat yah?"
"Iya nih, udah ngantuk. Takut besok nggak bisa bangun."
"Kalau nggak bisa bangun aku bangunin deh."
"Ih, emangnya situ jam beker?"
"Kamu kepengennya aku jadi jam beker? Boleh deh."
"Hahaha, ada ada saja. Ada apa nelpon jam segini. Udah jam sebelas nih."
"Oh, iya. Aku nggak lihat. Maklum biasanya nggak tidur waktu malem."
"Lho, emangnya kenapa? Insomnia."
"Aku ini sejenis batman. Keluarnya malem. Kalau siang tidur."
"Huuu...ngaco ah. Batman jadi-jadian kali."
"Masalah kalau malam aku itu sedang terbang mencari sesuatu."
"Emang cari apaan?"
"Mencari dirimu di hati aku."
"Adudududuh...rayuannya maut. Hihihihi."
"Sayang ya besok Malem Minggu kamu mau jalan ama Pandu. Padahal kepengen banget ngajak kamu nonton."
"Kenapa nggak besok aja? Kan besok hari Jum'at. Kalau kamu mau ngajak keluar, aku free koq"
"Yang bener?"
"Iya, lagian kalau hari Jum'at bioskopnya ada nonton hemat kan?"
"Betul betul betul."
"Ya sudah, aku mau bobo' nih."
"Besok habis pulang sekolah ya? Atau malemnya?"
"Malem dong, ntar aku nanti dicari nyak ama babe gara-gara nggak pulang habis sekolah."
"Asyiiikk...oke deh. Sampai besok yah. Dan jangan lupa!"
"Apaan?"
"Mimpiin aku dong."
"Huuu...emangnya bisa mimpi dipesen?"
"Bisa aja."
"Gimana caranya?"
"Sebut namaku tiga kali sebelum tidur, bayangin wajahku, ntar pasti bakal ketemu."
"Huu..emang apaan? Udah ah, bobo' dulu cowok cakep."
"Selamat tidur cewek cantik."
Aku pun menutup teleponnya. Yes...besok aku mau jalan ama Vira. Wooohooooo!
(bersambung......)
ليست هناك تعليقات for "𝐀𝐧𝐚𝐤 𝐁𝐚𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐁𝐚𝐠.𝟏𝟗 [𝐰𝐚𝐫𝐢𝐬𝐚𝐧]"
إرسال تعليق